Mengapa Tahun Baru Dirayakan Setiap 1 Januari? Ini Sejarahnya

oleh -290 views

garudaonline, Jakarta: Tanggal 31 Desember banyak dinanti orang untuk merayakan pergantian tahun.

Ini adalah saat di mana orang-orang sangat menantikan tengah malam demi melihat matahari terbenam terakhir di tahun 2018 dan matahari terbit pertama di 1 Januari 2019.

Namun pernahkah Anda berpikir mengapa Tahun Baru dirayakan setiap tanggal 1 Januari? Bagaimana itu semua terjadi?

Mengutip History, penetapan 1 Januari menjadi hari pertama awal tahun baru terjadi sejak zaman Romawi.

Awalnya, kalender Romawi hanya memiliki 10 bulan dan 304 hari. Setiap tahun baru dimulai pada vernal equinox. Tradisi ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma pada abad ke-8 sebelum masehi.

Namun seorang raja sesudahnya, Numa Pompilius menambahkan bulan Januarius dan Februarius ke dalam penanggalan tersebut. Hanya saja, selama berabad-abad, perhitungan kalender ini ternyata tak selaras dengan matahari.

Hal inilah yang membuat Kaisar Julius Caesar akhirnya memutuskan untuk mengubahnya. Dia mencoba untuk berkonsultasi dan para astronom dan matematikawan terkemuka di masa itu. Setelah diperbaiki, Julies Caesar pun memperkenalkan kalender Julian -kalender yang selaras dengan matahari.

Kalender ini mirip dengan kalender Gregorian yang lebih modern dan sudah dipakai di sebagian besar negara di dunia sekarang ini.

Penetapan 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru ini dilakukan sebagai bagian dari reformasinya Caesar. Di tanggal ini juga ditandai sebagai hari di mana pejabat politik tertinggi terpilih di Roma mulai menjabat dan bekerja selama setahun.

Caesar membuat tanggal 1 Januari sebagai hari pertama awal tahun sebagai upaya untuk menghormati nama dewa yang sama dengan bulan tersebut, Janus. Janus sendiri adalah dewa yang memiliki dua muka sekaligus dewa permulaan di Romawi.

Kedua wajahnya ini melambangkan kemampuannya untuk melihat ke masa lalu dan masa depan. Di masa itu, orang-orang Romawi merayakan tahun baru dan hari raya dewa Janus dengan bertukar hadiah satu sama lain. Tak cuma itu, mereka juga menghias rumah mereka dengan cabang pohon laurel dan menghadiri pesta.

Namun saat itu, Julius Caesar, dikutip dari Live Science, masih tak bisa membakukan hari pertama awal tahun, karena beberapa daerah masih menggunakan tanggal di bulan Maret dan September sebagai hari tahun baru mereka.

Perayaan tahun baru masih terus bergeser-geser setiap waktu, bahkan pernah di hari yang sama seperti hari Natal.

Pada Abad pertengahan di Eropa, perayaan tahun baru dianggap sebagai hari penyembahan berhala, sehingga hari libur pun dipindahkan ke tanggal lain yang lebih religius, termasuk tanggal 25 Desember dan tanggal 25 Maret, Pesta kabar gembira.

Akhirnya Paus Gregorius XIII menetapkan kalender Gregorian pada tahun 1582. Di masa itu, hari awal tahun baru kembali dipulihkan dan ditetapkan tiap 1 Januari.(CNN/voshkie)

Berikan Komentar