Mulai 1 Maret Kemenkes Coret Obat Kanker Bevacizumab dari Fornas

oleh -545 views

garudaonline, Medan: Menteri Kesehatan RI melalui Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/707/2018, telah mencoret obat kanker Bevacizumab dari Formularium Nasional (Fornas) mulai 1 Maret 2019. Sedangkan obat Cetuximab tetap ada dalam daftar Fornas, akan tetapi peresepannya diperbarui.

“Dan melalui peraturan Menteri Kesehatan tersebut juga disampaikan bahwa obat kanker yang lainnya tetap dijamin untuk peserta JKN,” kata Kepala Bidang SDM, Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Kota Medan Ilham lailatul Qodr, Rabu (27/2/2019).

Dia mengatakan BPJS Kesehatan menyiapkan alternatif obat kanker pengganti Bevacizumab yang bisa digunakan pasien dan dianggap lebih efektif. Dalam Fornas, obat pengganti tersebut antara lain irinotekan, kapesitabin, dan oksaliplatin. Obat tersebut berupa injeksi yang diberikan kepada pasien sesuai dosisnya.

“Substitusinya ada karena di Fornas itu dia harus bisa melakukan pelayanan untuk penyakit tertentu dan tidak menghilangkan. Selalu ada penggantinya,” ungkapnya.

Pengamat Kesehatan Sumut, Destanul Aulia SKM MBA Mec PhD, mengatakan ada beberapa pertimbangan untuk memasukkan obat ke dalam Fornas ataupun sebaliknya tidak memasukannya atau mencoret dari Fornas, di antaranya pertimbangan efektivitas, suplai, pemanfaatannya, harga dan kriteria obat seperti off label.

“Jenis obat Bevasizumab adalah off label yaitu otoritas obat tidak mengatur praktek dokter. Sehingga dokter dapat diandalkan untuk menggunakan penilaian mereka sendiri dalam memutuskan penggunaan obat tersebut. Penggunaan obat merupakan keputusan dokter dan berdasarkan kesepakatan dengan pasien dengan mempertimbangkan aspek klinis, ketersediaan obat dan harga yang disetujui,” urainya.

Dalam konsep ini, lanjutnya, terjadi supply induced demand di mana informasi dan pengetahuan yang lebih pada dokter sehingga keputusannya ada pada dokter dan menginduksi pasien atau keluarga untuk menjalankannya. Dalam era BPJS Kesehatan, pemanfaatan obat ini cenderung berlebih dan akan terus meningkat dan menimbulkan konsekuensi peningkatan biaya klaim.

“Sementara itu substitusinya ada karena di Fornas itu dia harus bisa melakukan pelayanan kepada penyakit tertentu dan tidak menghilangkan. Selalu ada penggantinya. Ada pertimbangan substitusi atas obat ini yang lebih layak menjadi keputusan untuk digunakan denga pertimbangan syarat Fornas tersebut. Dan keputusan ini sudah melalui kajian akademik dan didukung kelompok atau elemen sebagai penganjur untuk mengantikannya,” tutur Destanul Aulia. (Voshkie)

Berikan Komentar