Perempuan Selandia Baru Kompak Berkerudung Demi Mengenang Korban Teror Christchurch

oleh -98 views

garudaonline, Selandia Baru: Tepat sepekan setelah tragedi penembakan di dua masjid di Christchurch, perempuan di Selandia Baru mengenakan kerudung untuk mengenang para korban teror yang menewaskan 50 orang tersebut.

Beberapa perempuan mengatakan, mereka satu suara, bahwa bagi non-Muslim, pemakaian kerudung ini adalah simbol cinta, kekuatan, dan persatuan di masa kelam.

“Saya dengar beberapa perempuan Muslim takut keluar mengenakan hijabnya setelah penembakan itu dan saya pikir tak seharusnya ada orang yang takut menjadi diri sendiri atau mempraktikkan kebudayaan atau kepercayaan mereka di Selandia Baru,” tutur Mal Turner.

Senada dengan Turner, seorang warga perempuan Selandia Baru lainnya berkata, “Kerudung yang saya pakai melambangkan kebebasan dan harmoni. Kebebasan berpendapat, menentukan siapa diri Anda, hak untuk hidup dan memilih agama tanpa ketakutan.”

Lebih jauh, seorang remaja perempuan bernama Kate Mills Workman mengaku memakai kerudung karena kagum dengan keberanian para umat Muslim meski mungkin dapat membawa mereka dalam bahaya.

“Saya kagum dengan kekuatan dan komitmen kepercayaan mereka dan saya harap dapat melihat ribuan warga Selandia Baru pakai kerudung untuk menunjukkan betapa kami menghargai keberanian mereka,” ucapnya.

Mengenakan kerudung ungu, Cherie Hailwood juga mengaku ingin merasakan menjalani kehidupan sebagai minoritas di negaranya, walau hanya satu hari.

“Memang berbeda jika harus mengenakannya setiap hari, tapi saya bangga dapat merasakan menjadi komunitas Muslim, meski hanya satu hari,” kata Hailwood.

Sementara itu, Izzy Ford memakai kerudung untuk mengajarkan kepada anaknya bahwa meski berbeda, semua orang pada dasarnya setara.

“Kami ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa meski berbeda agama dan penampilan, kita sama. Saya tahu hari-hari akan berlalu dan kami akan melepas kerudung dan kembali ke kehidupan kami, dan bagi komunitas Muslim, mereka akan tetap melanjutkannya,” tutur Ford.

Melanjutkan pernyataannya, Ford berkata, “Namun untuk saat ini, kami ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kami adalah mereka, kami mencintai mereka, dan mereka adalah keluarga kami.”

Namun, tak semua kalangan mendukung kampanye yang disebut “kerudung untuk harmoni” ini. Sejumlah warganet menganggap hijab adalah simbol penindasan perempuan.

Beberapa warganet pun mengatakan bahwa warga Selandia Baru cukup menunjukkan solidaritas dengan mengikuti upacara mengheningkan cipta dan menjaga keamanan sekitar.

Meski demikian, sebagian besar umat Muslim di Selandia Baru justru mendukung kampanye ini. Salah satu warganet muslimat di Selandia Baru bahkan menyatakan kampanye itu, “indah dan bukan hal tidak sopan.” (CNN/dfn)

Berikan Komentar