Bocah 7 Tahun Tewas Tersambar Petir

oleh -327 views

garudaonline – Asahan | Duka menimpa pasangan suami istri (pasutri)  Surya (30) dan Heni, di mana  anak  pertamanya mereka berusia 7 tahun, bernama Febri Kurniawan Sandy tewas tersambar petir di bawah pohon mangga

Pelajar kelas satu Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Hidayah yang tercatat sebagai warga Lingkungan III Kelurahan Bunut Barat, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan itu tewas saat  duduk di bawah pohon mangga di samping halaman rumah tempat tinggalnya, Sabtu (15/10) sekira pukul 17.00 WIB.

Kerabat korban, Imam (45) menyebutkan, bahwa tidak seorang pun warga yang menduga kejadian yang terjadi saat hujan gerimis. Saat itu korban sedang duduk sendiri, memakan pulut pemberian warga.

Pada saat itu, di lokasi  yang sama beberapa warga sedang membantu salah seorang tetangga memasak untuk persiapan acara takziah malam ketiga.

“Waktu itu Febri lagi sendiri dan sedang makan pulut. Kemudian, tak berapa lama terdengar suara petir dua kali. Pada waktu bersamaan, ada suara jeritan anak-anak. Begitu dilihat, dia  (korban) sudah tergeletak, lemas tak berdaya,” ujarnya, ketika menghadiri proses pemakaman di rumah duka, Minggu (16/10/2016).

Imam memamparkan, setelah melihat tergeletak lemas tak berdaya, warga yang sedang memasak langsung berhamburan ke arah korban.

“Saat diajak berbicara, korban hanya mengerang dengan suara pelan, nyaris nggak kedengaran. Ketika dibuka bajunya, punggungnya menghitam,” katanya.

Lanjutnya, korban langsung dibawa ke RSUD H Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran untuk pertolongan medis. Nahas, ketika sampai di Taman Makam Pahlawan (TMP), korban menghembuskan nafas terakhir, sebelum sampai ke RSUD HAMS Kisaran.

“Tapi perjalanan tetap kita teruskan ke rumah sakit untuk memastikan kondisi korban. Setelah diperiksa, dokter memastikan korban telah meninggal dunia,” tandasnya.

Pada saat proses pemakaman, kedua  orang tua korban hanya bisa menangis histeris melihat kepergian buah hatinya. Ibu korban, Heni nyaris pingsan saat jenazah korban hendak diusung warga dari rumah duka.

Selama ini, korban dititipkan kepada orang tuanya (kakek dan nenek korban), Subardo (50) dan Sariyah (48). Sementara Heni mengikut suaminya Surya yang bekerja disebuah perusahaan perkebunan swasta Provinsi Riau.

Menurut Kepala Lingkungan (Kepling) III, Supriyanto, bahwa kejadian seperti yang menimpa korban bukan yang pertama kali terjadi di daerah tersebut. Pada tahun 2015, kakak beradik, Astuti dan Selvia juga pernah mengalami hal yang sama.

“Dulu, (tahun 2015) juga pernah ada kejadian serupa. Waktu itu ada kakak beradik sedang bermain handphone di halaman rumah. Keduanya juga tersambar petir. Tapi nyawa mereka masih tertolong dan telah pulih, meski sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit,” pungkasnya. (HT)

Berikan Komentar