Gempa Pidie Jaya: Korban Meninggal Sudah 99 Orang

oleh -700 views

garudaonline – Pidie Jaya | Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh, Rudianto mengatakan peristiwa alam gempa bumi pada Rabu (7/12) kemarin telah menelan korban hingga 99 jiwa. Saat ini para korban sudah berada di rumah masing-masing. “Iya korbannya sudah 99 orang yang meninggal dunia,” ujar Rudianto saat dihubungi wartawan, Kamis (8/12).

Adapun lanjut dia, korban dengan luka berat yang tertimpa puing-puing bangunan saat ini berjumlah 128 orang. Sedangkan mereka yang terkena luka ringan berjumlah 489 orang. “Ada 280 orang di rawat di 4 empat rumah sakit yakni di RS Sigli, RS Bireuen, RS Banda Aceh dan RS Pidie Jaya,” ujarnya.

Hingga Kamis (8/12) pagi ini dia mengatakan pencarian di balik reruntuhan masih terus dilakukan. Tim medis pun masih terus bersiaga di posko masing-masing.

Gempa bumi mengguncang Aceh sekitar pukul 05.05 WIB. Gempa tersebut sedikitnya telah mempengaruhi tiga wilayah di provinsi Aceh, yakni 18 Km Timur laut kabupaten Pidie Jaya, 34 Km Barat laut Kabupaten Bireuen, dan 48 km Timur Laut Kabupaten Pidie, dan 121 km Tenggara Banda Aceh.(malaon)

Penyebar Foto Kapolri Bersanding dengan Aidit Diringkus Polisi
garudaonline – Jakarta | Polda Metro Jaya mengamankan seorang berinisial MRN, 40 tahun, tersangka penyebar foto Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang disandingkan
dengan pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit. Foto tersebut disebarkan melalui akun media sosial Facebook bernama Muhammad Rahim Nasution serta memosting
tulisan yang dianggap sebagai provokasi dan pencemaran nama baik.

“Menyamakan gambar Pak Kapolri disandingkan dengan DN Aidit. Postingan ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan. Dampak postingan tidak benar ini dapat menimbulkan persepsi buruk di masyarakat,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Wahyu Hadiningrat, Kamis (8/12).

Setelah diperiksa, tersangka merupakan narapidana kasus narkoba pada 2012 lalu yang masih mendekam di Lembaga Pemasyarakata (Lapas) Tangerang. Kemudian polisi bekerja sama dengan pihak lapas untuk menangkap MRN. “Motifnya dia menyampaikan tidak suka dengan pemerintahan. Ini kritik yang tidak dibenarkan oleh UU ITE,” katanya.

Menanggapi kebebasan narapidana MRN yang mengakses internet dari dalam lapas, Wahyu tidak memberi penjelasan secara rinci. “Kami hanya melakukan tindakan hukum penangkapan,” kata Wahyu.(rep)

Berikan Komentar