Niatnya Buka Usaha Pijat, Boru Tindaon Malah Ditelanjangi dan Diusir dari Kampung

oleh -768 views

garudaonline – Sergai | Perempuan yang satu ini benar-benar sial. Bagaimana tidak, lantaran dituding sombong, niatnya membuka usaha pihak refleksi berakhir tragis. Pasalnya, Warga Dusun III, Desa Gempolan, Kecamatan Sei Bamban, Serdangbedagai (Sergai) ini diusir dan disebutnya sempat ditelanjangi.

Peristiwa tersebut dialami A Boru Tindaon (48), Selasa (25/10/2016) kemarin di rumah kosnya .

Kejadian itu diungkapkan langsung oleh perempuan berstatus janda tersebut, ketika ditemui di kantor Bupati Sergai pada sore harinya. “Aku nggak terima atas perbuatan mereka melecehkan harga diriku,” kesalnya.

Menurutnya, sebelumnya dia menetap di Jakarta. Merasa tidak ada peluang untuk maju di ibu kota, dirinya memutuskan mengadu peruntungan di kampung halaman orang tuanya, Desa Gempolan.

Setibanya disana, perempuan berambut pendek ini mengontrak rumah senilai Rp1 juta per tahun. “Aku berniat membuka usaha pijat refleksi di kampung,” sebutnya.

Diakuinya, beberapa warga sekitar keberatan begitu mendengar rencana usaha yang akan dibukanya. Sikap keberatan itu bahkan diikuti dengan upaya mengusir dia. Dalih warga, dia tidak ada melapor sama kepala dusun (Kadus) setempat.

Melihat besarnya penolakan warga, masih kata Br Tindaon, Kadus juga mendatangi dan menyarankannya segera pindah. Yakin keberadaannya tidak melanggar hukum, perempuan bertubuh sedikit gempal ini coba mempertahankan haknya bertempat tinggal.

Dengan garangnya, dia sampai terlibat cekcok dengan si Kadus. Belakangan, Kadus memfasilitasi pertemuan dengan warga sekitar di kantor desa.

“Di kantor desa mereka minta aku tetap pindah. Aku menolak karena rumah itu sudah aku sewa setahun. Aku sudah melapor ke Polisi, minta perlindungan hukum karena aku sudah dianiaya dan ditelanjangi,” ujarnya.

Saat wartawan mendatangi Desa Gempolan, warga sekitar langsung buka cerita. Dikatakan, orang tuanya Br Tindaon memang lama menetap di desa tersebut. Pun begitu, menurut warga, seharusnya perempuan tersebut melapor pindah domisili kepada aparatur setempat. Bukan sebaliknya, suka-suka.

“Jangan seenaknya saja dia berbuat di kampung ini. Sudah lah sombong, merasa paling kaya. Ehhh, sok mau buka warung pijat refleksi pulak. Sudah pasti penghuninya (pekerja-red) nanti kebanyakan lo***,” geram seorang ibu.
Sikap menolak juga disampaikan kaum Adam yang ditemui di sebuah warung rokok. Pengakuan pria paruh baya yang tinggal dekat rumah Br Tindaon, kesombongan perempuan itu bahkan sudah melebihi pejabat.

“Pejabat yang datang dari Jakarta pun, pasti nggak sesombong dia,” imbuh pria bersarung ini.

Saat coba menemui kerabat Br Tindaon, rumahnya justru terlihat gelap. Sama sekali tidak ada nyala lampu di dalam maupun luar rumah.(Pmc)

Berikan Komentar