Seratusan Buruh Adukan Pelindo 1 ke Jokowi

oleh -440 views

garudaonline – Medan | Seratusan buruh Koperasi Karyawan Pelabuhan (Kopkarpel) memutuskan berjalan kaki dari Medan ke Jakarta, Jumat (20/1/2017). Tindakan itu dilakukan para buruh untuk mengadukan Pelindo 1 ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara.

Rombongan buruh memulai perjalanannya dari Kantor Pelindo I, Jalan Kratatau, Medan, sekitar pukul 08.30 WIB. Mereka sempat berhenti di Masjid Raya Al Mahsun, Jalan Sisingamangaraja Medan untuk melaksanakan Salat Jumat.

Kemudian perjalanan kembali dilanjutkan sekira pukul 14.35 WIB. Para buruh akan melintasi jalur timur Jalan Lintas Sumatera. Aksi longmarch ini diperkirakan menempuh waktu berkisar 1 bulan.

Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Kota Medan, April Waruwu, mengatakan aksi itu dilakukan untuk mengadukan nasib para buruh pada Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi.

Pasalnya para buruh yang sudah belasan tahun bekerja di bawah naungan Kopkarpel, tak kunjung diangkat sebagai karyawan. Bahkan pada akhir 2016 mereka dipindahkan lagi menjadi outsourching.

“Para buruh ini merasa sudah diperlakukan tidak adil. Setelah belasan tahun bekerja, mereka tak kunjung diangkat menjadi karyawan, bahkan dipindah menjadi tenaga outsourching,” ucap April Waruwu yang menjadi koordinator longmarch ke Jakarta.

Dia menambahkan perjalanan itu sudah disiapkan dengan matang. Perbekalan, mobil komando hingga ambulans juga telah dipersiapkan. Nantinya rombongan buruh akan disambut perwakilan SBSI di setiap kabupaten dan kota yang dilintasi.

“Tentunya ini perjalanan panjang untuk memperjuangkan nasib teman-teman kita. Kita berharap semua lancar, dan tiba dengan selamat di Jakarta sehingga rombongan dapat mengadukan nasib ke Presiden,” beber April.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pelindo I M. Eriansyah mengatakan tindakan para buruh yang ingin melaporkan Pelindo 1 ke Presiden Jokowi merupakan salah alamat. Karena selama ini para buruh bekerja di bawah naungan Kopkarpel bukan Pelindo 1.

“Apa yang disampaikan para buruh itu salah alamat. Mereka bekerja di bawah Kopkarpel. Segala kebijakan maupun rekruitment itu dilakukan Kopkarpel. Maka secara badan hukum berbeda. Jadi kita tidak tahu menahu dengan mereka dan tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Saya pikir jumlah mereka juga tidak sampai seratusan ya,” pungkasnya.

(fidel)

Berikan Komentar