Tragis, Habis Diperkosa Paman, Remaja 13 Tahun Dipukuli Istri Polisi

oleh -534 views

garudaonline – Siantar | Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Setelah menderita akibat lima kali diperkosa pria yang mengaku pamannya, R, remaja berusia 13 tahun ini harus menderita lagi. Wanita yang dianggapnya sebagai dewi penolong karena telah memungutnya usai diperkosa, malah bersikap kasar dan menganiayanya.

Didampingi guru sekolhanya Sahrul Panjaitan dan Kepala Sekolah Jasfer Simanjuntak ketika ditemui di Dinas Kesehatan Kota Siantar, Senin (10/10/2016), R menjelaskan, sejak kecil dia memang sudah menderita. Ayahnya yang tinggal di Kampung Pekan Baru, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, kawin lagi dan ibu tirinya sangat kejam padanya.

Melihat kekejaman ibu tirinya, maka pada tahun 2013 lalu, salah satu keluarga mereka marga Panjaitan membawanya dan menitipkannya di rumah amang borunya (paman) marga Pardede yang tinggal di seputaran Marihat Lambau, Kota Siantar.

Tinggal di rumah pamannya, R yang waktu itu masih berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas tiga bukannya semakin bahagia. Sebaliknya, pemberitaannya semakin bertambah. Pardede yang diharapkan menjaganya malah memperkosanya hingga lima kali.

“Pertama kali aku diperkosa di ruang TV. Waktu itu dia menutup mulutku pakai tangannya. Setelah selesai, dia mengancam aku. Dia bilang, jangan kasih tahu boru (bibi). Kalau kau kasih tau, kubunuh kau, “jelas R.

Karena takut dengan ancaman itu, maka R pun menahankan penderitaan dan merahasiakan perbuatan bejad pamannya itu. Namun, sikap diamnya ini menjadi malapetaka baginya. Merasa aman, maka pamannya kembali mengulangi perbuatannya memperkosa gadis yang masih ingusan ini.

“Setelah di ruang TV, amang boru memperkosa aku di kamar belakang,
dua kali di kandang babi, dan kelima waktu di sawah, “ucapnya.

Karena tak tahan, R akhirnya bercerita pada teman satu sekolahnya di salah satu SD di Marihat Lambau. Mendengarkan cerita itu, teman korban kemudian menceritakan hal itu kepada gurunya yang selanjutnya membuat pengaduan ke Mapolres Siantar.
Sayangnya, entah apa alasannya, penyidik di Polres Siantar belum menangani pengaduan itu.

Setelah terbongkarnya kisah pemerkosaan itu, S boru S, guru sekolah R yang merupakan istri seorang polisi di Polres Siantar kemudian mengajak R tinggal di rumahnya di Simpang Muni Harapan Jawa II, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Diajak tinggal di rumah guru sekolahnya, R sempat kegirangan. Hanya saja, tak disangka, S boru S yang dianggapnya sebagai dewi penolong itu ternyata bukan orang baik.

Selama tinggal di rumah gurunya itu, R dipaksa bekerja melebihi seorang pembantu. Selain disuruh mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai mengecek lantai, dan cuci piring, setiap pulang sekolah R diminta membersihkan ladang coklat milik S boru S seluas 11 rante.

Parahnya, bila salah sedikit saja, maka S boru S main tangan dan menganiayanya. Bahkan S boru S pernah memukul kepala R dengan kayu berpaku.

“Asal kerjaan gak beres, namboru (S boru S) marah dan memukuli aku. Kadang dicubit, dipukul pake kayu yang berpaku, dan pernah dipecahkannya gelas di kepalaku,”jelasnya.

Sahrul Panjaitan menambahkan, sejak awal tinggal di rumah S boru S, dia sudah kasihan melihat penderitaan R. Soalnya, setiap hari usai membersihkan ladang coklat milik S boru S, dia melihat R melintas di depan rumahnya dengan keadaan sangat kelelahan.

Karena iba, maka suatu hari Sahrul Panjaitan pernah mencoba mengantarkan R pulang ke rumahnya dengan menggunakan sepeda motornya. Namun, sekira 100 meter dari rumah S boru S, remaja itu minta diturunkan karena takut dimarahi.

“Karena kasihan, aku pernah memboncengnya pake kereta ku, tapi sekitar 100 meter dari rumahnya, dia minta turun. Katanya dia takut ketahuan diantar dan takut dipukuli oleh S boru S, “ucap guru olah raga di SD 091520 Pagar Jawa, Nagori Marubun Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simungun ini.

Mengetahui penyiksaan yang dialami remaja usia 13 tahun itu, maka Sahrul Panjaitan pun membawa R tinggal di rumahnya di Simpang Muni Harapan Jawa I, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Selanjutnya, Sahrul Panjaitan memindahkan R ke sekolahnya dan selanjutnya pada 23 September 2016 kemarin, dia bersama guru-guru dan Kepala Sekolahnya Jasper Panjaitan mengadukan tindakan penganiayaan itu ke Polres Simalungun.

Sayangnya, ucap Sahrul, meskipun sampai saat ini bekas penganiayaan itu masih tampak di tubuh R, petugas kepolisian di Polres Simalungun berdalih kalau hasil visumnya negatif hingga tak menangani kasus penganiayaan yang dialami R itu.

Parahnya,  ucap Sahrul,  salah satu penyidik di Polres Simalungun meminta agar Sahrul tak sakit hati kalau mereka tak akan menahan S boru lantaran merupakan istri seorang polisi.

Dia menyesalkan sikap petugas di Polres Siantar yang tak menangani kasus pemerkosaan dan Polres Simalungun yang hingga kini tak menangani kasus penganiayaan yang dialami gadis lemah itu.(JS)

Berikan Komentar