Wapimred Matatelinga.com Dianiaya Oknum Pengusaha Panglong

oleh -368 views
Dengan kondisi bibir pecah, M Idris menceritakan peristiwa penganiayaan yang dialiminya kepada wartawan

garudaonline – Medan | Wakil Pimpinan Redaksi (Wapimred) Matatelinga.com, M Idris, 27, menjadi korban penganiayaan oknum pengusaha panglong berinisial B. Akibatnya, putra sulung Amrizal SH, wartawan senior Harian Waspada itu mengalami luka-luka.

Peristiwa penganiayaan ini terjadi di Jalan Puri Kelurahan Kota Matsum IV, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (15/4/2017) siang. Ketika itu korban tengah duduk di rumah temannya, Harry Hardian Wahidin, 27.

“Ketika saya sedang asyik ngobrol dengan teman saya, tiba-tiba pelaku yang memiliki usaha persis di depan rumah teman saya itu megucapkan kata-kata kasar kepada saya. Namun saya diam saja dan tak meresponnya,” ujar korban.

“Tak lama kemudian, pelaku menyambangi saya di teras rumah teman saya. Pelaku kembali mengucapkan kata-kata kasar kepada saya. Namun saya tetap tidak mau terpancing dengan perkataan pelaku itu, saya mencoba memenangkan pelaku sembari merangkulnya,” tuturnya.

“Saat pelaku saya rangkul, dia juga merangkul saya sembari membawa saya ke depan rumahnya. Saya tak curiga saat itu. Namun tiba-tiba tubuh saya dihempaskan pelaku ke jalan dan kemudian saya dipukuli secara membabi buta hingga bibir saya terluka dan berdarah, sedangkan wajah saya lebam-lebam,” terangnya.

“Pelaku bukannya menyesali perbuatannya, justru menantang saya supaya saya melapor ke kantor polisi,” sambung Korban.

Selanjutnya pelaku meninggalkan lokasi, sedangkan korban diboceng temannya ke Polsek Medan Area dengan mengendarai sepeda motor. Di perjalanan korban langsung menelepon ayahnya, Amrizal, 49, yang juga wartawan Harian Waspada.

“Setelah membuat laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Medan Area, petugas memberikan surat pengantar untuk divisum ke RS Bhakti Medan. Usai divisum, saya kembali lagi ke Mapolsek Medan Area. Sesampainya di depan Mapolsek Medan Area, tiba-tiba seorang pria yang mengaku anggota polisi dari Polrestabes Medan berupaya menangkapku,” ujar korban.

“Kanit Reskrim Polsek Medan Area AKP Cahyadi yang melihat hal itu langsung mengusirnya karena melakukan tindakan penangkapan tanpa disertai surat perintah penangkapan,” tutup korban.

Berikan Komentar