Petugas Pengadilan Militer ‘Usir’ Wartawan dari Ruang Sidang

oleh -1.037 views

garudaonline – Medan | Persidangan penganiayaan jurnalis Medan dengan agenda putusan di Pengadilan Militer Medan diwarnai keanehan, Rabu 6 September 2017. Pasalnya salah seorang petugas Pengadilan Militer melarang sejumlah wartawan dan tim penguasa hukum korban berada di ruang sidang.

Kejadian berawal saat sejumlah jurnalis dan penasehat hukum korban Array memasuki ruang sidang dan memilih duduk di bangku pengunjung. Pada saat itu, belum ada digelar satu pun persidangan. Kemudian, petugas yang bernama Praka DS Siregar datang meminta sejumlah wartawan keluar. Dia mengatakan tidak ada yang boleh berada di ruang sidang karena sidang belum digelar.

“Sebaiknya keluar dulu, nunggu di luar saja. Karena sidangnya belum digelar. Hari ini banyak persidangan, kita tidak tahu sidang mana lebih dulu yang akan digelar, apakah sidang perkara abang atau yang lain,” ucap petugas tersebut.

Mendengar permintaan petugas itu, Aidil tim kuasa hukum korban dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan meminta agar mereka diperbolehkan melihat jalannya persidangan kasus-kasus yang akan digelar di ruangan itu.

“Ya sudah bang, kami nunggu di ruang sidang saja, sambil melihat sidang lainnya yang akan digelar ini. Kalau sidangnya tertutup untuk umum, kami pasti keluar,” ucap Aidil.

Akan tetapi, petugas itu terus memaksa agar wartawan dan tim penasehat hukum keluar dari ruangan itu. Dia beralasan, hal itu perintah dari atasannya yang tidak membolehkan seorang pun berada di ruangan sidang.

“Abang-abang saya mohon, keluar saja. Karena ini perintah dari pimpinan saya. Kalau saya hanya menjalankan perintah saja. Pangkat saya juga rendah nya, jadi saya hanya diperintah oleh atasan saya. Apalagi dikhawatirkan, barang bukti yang ada di ruang sidang ini bisa hilang,” ucapnya.

Padahal di ruang sidang itu, tidak ada barang bukti yang diletakkan. Armada tim kuasa hukum lainnya pun mempertanyakan sikap petugas itu. Dia meminta agar petugas tersebut menunjukkan peraturan yang melarang siapapun melihat persidangan yang terbuka untuk umum.

“Itu peraturan dari mana bang? Kalau sidang terbuka untuk umum apa tidak boleh dilihat. Kalau ada aturan atau dasar hukumnya yang jelas, kami keluar. Abang bilang barang bukti bisa hilang, abang menuduh kami,” pungkasnya.

Karena tetap bertahan di ruang sidang, petugas tersebut kembali menyatakan hanya menjalankan perintah atasannya.

“Karena saya hanya jalankan perintah atasan saja. Kalau tidak, saya bisa dikenai pidana. Tolong pahami saya. Silahkan keluar dari ruang sidang ini,” tegasnya.

Karena tidak mau berdebat lebih jauh, sejumlah jurnalis akhirnya memilih keluar dari ruang sidang. Hingga berita ini dimuat, persidangan putusan kasus penganiayaan jurnalis Medan belum juga digelar.

Sebelumnya, Prajurit Satu (Pratu) Rommel Sihombing, personel Paskhas TNI Angkatan Udara (AU) Lanud Soewondo dituntut selama 6 bulan penjara. Dia terbukti bersalah menganiaya sejumlah jurnalis saat melakukan peliputan bentrok antara warga dan Paskhas TNI AU terkait sengketa tanah di Kawasan Karang Sari, Kecamatan Medan Polonia pada Senin 15 Agustus 2016.

(Fidel)

Berikan Komentar