Pil KB dan 5 Mitos yang Acap Menghantui Penggunanya

oleh -497 views

garudaonline, Medan: Pil KB telah menjadi salah satu obat ampuh kehamilan selama puluhan tahun. Meski pengetahuan wanita telah meningkat signifikan sejak diperkenalkannya obat kontrasepsi ini, banyak mitos yang mengelilinginya.

Tak memahami bagaimana pil bekerja dan menyalahgunakannya dapat berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan. Artinya, seseorang penting untuk mengetahui hal-hal yang ada di sekeliling pil KB.

Berikut beberapa kesalahpahaman banyak orang soal pil KB.

1. Menambah berat badan
Ini adalah salah satu mitos terbesar pil KB. Namun, penelitian menunjukkan tak ada hubungan antara kenaikan berat badan dan kontrol kelahiran.

Estrogen dalam pil membuat beberapa wanita merasa kembung. Namun, hal itu perlahan akan menghilang.

Mengutip Very Well Health, progestin yang ada di dalam pil dapat meningkatkan nafsu makan. Hanya saja, hal itu dapat diimbangi dengan diet dan olahraga atau beralih ke pil KB dosis rendah.

2. Harus berhenti sejenak
Tak ada alasan medis bagi wanita untuk beristirahat dari pil. Obat dapat diminum secara berurutan selama Anda membutuhkannya tanpa peningkatan risiko. Namun, dokter menyarankan untuk meninjau kebutuhan kontrasepsi setelah 15 tahun mengonsumsi pil atau pada usia 35 tahun.

Pil KB adalah salah satu kontrasepsi paling efektif. Berhenti sejenak hanya akan meningkatkan risiko hamil jika Anda aktif secara seksual.

3. Memengaruhi kesuburan
Tak ada hubungan antara mengonsumsi pil dan infertilitas. Kesuburan dapat kembali segera setelah Anda berhenti mengonsumsi pil.

Beberapa wanita memang memungkinkan mengalami kesulitan hamil setelah berhenti mengonsumsi pil. Namun, ini terutama berlaku bagi wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur.

Mitos soal pil dan infertilitas ini didorong oleh faktor alami. Seringkali, penggunaan pil digunakan untuk menunda kehamilan hingga usia 30-an, masa ketika kesuburan berkurang secara alami.

4. Tidak bisa diminum oleh wanita perokok
Wanita perokok berisiko lebih tinggi mengalami stroke saat mengonsumsi pil. Bagi wanita berusia 35 tahun ke atas, kombinasi pil dan merokok dapat meningkatkan risiko stroke. Karena alasan ini, kebanyakan dokter tidak akan meresepkan pil untuk wanita perokok untuk wanita di atas 35 tahun.

5. Menyebabkan kanker
Secara umum, mengonsumsi pil tidak meningkatkan risiko kanker. Justru sebaliknya, pil memiliki efek perlindungan terhadap jenis kanker tertentu seperti ovarium, endometrium, dan kolorektal.

Memang, beberapa penelitian menunjukkan sedikit peningkatan risiko untuk jenis kanker lain seperti payudara, rahim, dan hati. Namun, risiko ini muncul karena beberapa faktor.

Pada kanker payudara, misalnya, risiko tergantung pada hormon. Sementara pada kanker serviks, risiko akan berkurang seiring waktu setelah berhenti mengonsumsi pil. (CNN/dfn)

Berikan Komentar