Populasi Orangutan Kian Terancam, YOSL Galakkan Konservasi

oleh -334 views

garudaonline, Medan: Mengingat tingkat ancaman terhadap satwa dilindungi semakin tinggi, untuk itu Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) menilai, konservasi terhadap spesies Orangutan harus terus dilakukan secara serius.

Direktur YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo mengatakan, tingkat ancaman terhadap orangutan didominasi oleh tingkat perambahan habitat Orangutan. Tak hanya itu, selain orangutan ancaman kepada satwa dilindungi lainnya juga masih tinggi.

Mereka mencatat, selama tahun 2017, mereka mengevakuasi enam Orangutan yang habitatnya tergusur. Selain itu mereka juga menyita dua ekor Orangutan yang diserahkan masyarakat.

Tahun ini, mereka juga mengevakuasi enam ekor Orangutan. Namun pada jumlah sitaan meningkat menjadi tiga ekor.

“Itu data di Sumatera Utara. Mayoritas kita dapat di Langkat,” ungkap Panut, Selasa (22/1).

Panut menilai, peluang terjadinya tindak pidana kehutanan masih cukup memprihatinkan. Tindak pidana perburuan dan perambahan hutan masih mengintai kelangsungan hidup Orangutan.

“Penilaian kami, pekerjaan konservasi ini tidak bisa berhenti. Karena kalau idealnya, kita tidak lagi patroli, kita tidak lagi evakuasi, rescue, menyita. Itu kondisi idealnya,” ujar penyabet penghargaan Emerging Explorer National Geographic 2016 itu.

Menurut Panut, bukan hutan meningkat di tahun ini. Artinya tingkat fragmentasi habitat satwa juga semakin tinggi.

“Ada potensi bukaan hutan yang berpotensi menambah tingkat ancaman. Misalnya, Jalan Karo-Langkat, itu sudah di Hot-Mix. Kalau tidak ada pengawasan yang ketat, maka akan ada perambahan di sekitar jalan, dan sebenarnya sudah terjadi di Tahuranya,” bebernya.

Namun begitu mereka melihta hal positif. Khususnya pada blok hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Besitang. Kawasan ini terkenal menjadi sentral perambahan. Namun sekarang mereka melihat tidak ada menemukan penambahan pada perambahan hutan.

“Artinya kerja keras kita di tahun sebelumnya bersama BBTNGL membawa hal yang positif,” ujarnya.

Selama ini Orangutan yang mereka sita dari masyarakat pedesaan. Namun di Aceh, ada beberapa yang disita dari pejabat yang memeliharanya.

Proses penyadaran masyarakat terhadap pentingnya Orangutan terus dilakukan. Sehingga kesadaran masyarakat semakin tinggi.

“Sekarang ini indikasinya, masyarakat sudah cukup sadar untuk memberitahukan ada Orangutan ke tim kita. Jadi responnya cukup cepat. Potensi pengambilan Orangutan ketika berkonflik dengan manusia semakin rendah. Karena tingkat kesadarannya makin tinggi,” tandasnya. (dfnorris)

Berikan Komentar