Presiden Interpol Hilang, China Bungkam

oleh -930 views

garudaonline, Jakarta: Interpol meminta klarifikasi resmi China terkait hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei yang diduga terjadi dalam perjalanan pulangnya ke China. Permintaan ini dilayangkan setelah adanya laporan bahwa Hongwei ditanyai saat tiba di kampung halamannya tersebut.

“Interpol telah meminta klarifikasi melalui jalur resmi penegakan hukum dari otoritas China mengenai status Presiden Interpol Meng Hongwei,” kata Jurgen Stock, sekretaris jenderal badan polisi internasional mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Sekretariat Jenderal Interpol mengharapkan tanggapan resmi dari pemerintah China untuk mengatasi kekhawatiran atas keamanan Presiden,” lanjutnya.

Sejauh ini, pemerintah China masih bungkam mengenai hilangnya Hongwei yang disebut sumber AFP dilaporkan hilang sejak September dari markas Interpol di Lyon, Selatan Prancis. Istri Hongwei juga telah melaporkan hal serupa.

Hongwei adalah sosok pria ‘kalangan atas’ terakhir yang diduga hilang di China. Sebelumnya, sejumlah pejabat pemerintahan, bisnis miliarder, bahkan selebritis terkenal Asia telah lenyap selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan pada suatu waktu di China.

Namun berita tentang lenyapnya wakil menteri Kementerian Keamanan Publik China itu dengan cepat diikuti spekulasi bahwa dia terdampak kampanye anti-korupsi rahasia Beijing. Sumber South China Morning Post mengatakan pihak berwenang dari komisi disiplin China telah menangkap Hongwei setelah dia tiba di Beijing.

Sebelumnya, China membentuk Komisi Pengawas Nasional yang memegang kekuatan besar untuk menyelidiki pegawai negeri di Negeri Tirai Bambu atas nama transparansi.

Meskipun undang-undang mengharuskan pihak berwenang untuk memberi tahu anggota keluarga seseorang yang ditahannya, mereka membuat pengecualian untuk kasus-kasus yang melibatkan keamanan nasional, terorisme, atau kekhawatiran atas penghancuran bukti atau gangguan saksi.

Banyak orang diketahui terjaring oleh komisi tersebut selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tanpa sepatah kata pun.

Kementerian Luar Negeri China tidak merespons permintaan tanggapan dari AFP mengenai perkembangan terbaru kasus ini.(cnn/voshkie)

Berikan Komentar