Heboh Supermoon: Mitos tentang Cinta & Kehamilan

oleh -333 views

garudaonline – Jakarta | Pengamat langit dan pecinta astronomi Senin malam, 14 November 2016, menyaksikan supermoon terbesar dan terdekat di abad ini. Para ahli mengatakan bulan pada saat itu akan menjadi paling terang dan terdekat dari Bumi sejak 1948.

Supermoon terakhir terjadi di pertengahan Oktober 2016. Namun para ahli menjelaskan supermoon pada 14 November 2016 adalah sesuatu yang spesial karena menjadi “Supermoon Ekstra.” Fenomena astronomi serupa berikutnya akan terjadi pada 2034.

Istilah supermoon berasal dari astronomi istilah “Perigee Full Moon”. Ini terjadi saat Bulan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi. “Ketika bulan dekat cakrawala, bisa terlihat besar secara tidak wajar bila dilihat melalui pohon, bangunan, atau obyek latar depan lainnya,” kata NASA baru-baru ini.

Supermoon adalah bulan penuh yang lebih dekat ke Bumi daripada biasanya. Estimasi menunjukkan bulan bisa muncul sampai 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari rata-rata bulan purnama pada fenomena astronomi. Supermoon 2016 akan mencapai fase penuh pada tanggal 14 November pada pukul 13.52 UTC/GMT (20.52 WIB).

Bulan penuh dapat memprovokasi kehidupan masyarakat. Hal ini sering terjadi beberapa minggu sebelum peristiwa supermoon. Pengaruh itu bisa tentang hubungan, pengalaman, atau faktor internal. Beberapa orang mengikuti kalender supermoon karena bisa mewakili masa perubahan, penyesuaian, atau peningkatan kesadaran.

Beberapa mitos atau cerita kuno juga mengaitkan gerhana bulan dengan hal romantis. Orang-orang Tlingit dari pantai barat laut Pacifik Amerika Utara mengatakan bahwa gerhana terjadi ketika matahari dan istrinya, bulan, memerlukan beberapa waktu untuk menyendiri (dalam gelap).

Dan orang-orang Hupa dari barat laut California mengatakan berbagai jenis kisah cinta tentang gerhana bulan. Menurut mitos Hupa, bulan adalah orang yang pergi keluar untuk berburu setiap hari dan membawa pulang buruan untuk rumah tangga yang dipenuhi binatang lapar.

Ketika mereka tidak puas dengan makanan mereka, hewan peliharaan, yang termasuk ular derik dan singa gunung, akan memakan bulan (maka terjadi gerhana). Untungnya istrinya membantu mengikat luka-lukanya dan membuatnya kembali bersinar di langit sekali lagi.

Mungkin, karena siklus menstruasi dan bulan sama panjangnya, banyak peradaban awal percaya bahwa bulan menentukan kapan wanita bisa hamil. Ini bisa menjelaskan mengapa Dewi Bulan–dari Dewi Cina Chang’e hingga Mama Quilla dari suku Inca–begitu menonjol dalam mitologi di seluruh dunia.

Pada tahun 1950, dokter asal Republik Ceko Eugene Jonas menemukan sebuah teks astrologi kuno Asiria yang menyatakan bahwa perempuan subur selama fase-fase tertentu dari bulan. Dia mendasarkan metode perencanaan keluarga berdasarkan hipotesis ini, dan mengatakan pada pasiennya mereka berovulasi ketika bulan berada di posisi yang sama seperti ketika mereka lahir.

Menurut teori lain yang bertahan sampai hari ini, bulan purnama menyebabkan peningkatan kelahiran. Sementara studi terbaru menampilkan sedikit bukti statistik akan booming bayi terimbas bulan. Bagaimanapun, sebagian besar ahli berpikir efek bulan pada reproduksi bisa diperkirakan.(LIVESCIENCE)

Berikan Komentar