Indonesia ‘Juara’ Kekerasan Anak se-Asia Tenggara

oleh -181 views

garudaonline – Solo | Lembaga PBB untuk anak-anak (UNICEF) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kekerasan pada anak tertinggi se-Asia Tenggara. Kepala Program Perlindungan Anak UNICEF, Amanda Bissex mengatakan, kekerasan pada anak di Indonesia lebih tinggi di banding Thailand dan Singapura.

Ia menyebutkan jenis kekerasan verbal di lembaga pendidikan paling mendominasi bentuk kekerasan yang dialami anak-anak di Indonesia. “Untuk skala dunia kekerasan pada anak di Indonesia rendah, tetapi di asia tenggara menjadi paling tinggi dibanding Thailand dan Singapura, kekerasan paling banyak terjadi di sekolah seperti bully,” tutur Amanda usai memberikan sambutan dalam peluncuran Pusat Layanan Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PLKSAI) di Balai Kota Surakarta pada Jum’at (21/10) siang.

Menurut data terakhir UNICEF, sebanyak 84 persen anak-anak di Indonesia usia dari 12-14 tahun telah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan di sekolah. Lebih dari setengah anak laki-laki usia 13-15 tahun menjadi korban penindasan atau bullying di sekolah. Dan 26 persen anak-anak mengalami kekerasan fisik dalam keluarga. UNICEF juga mencatat terdapat 1000 anak perempuan menikah dini atau di bawah usia 18 tahun.

“Indonesia tidak sendirian menghadapi kekerasan anak, banyak negara juga memiliki masalah yang sama. Tingginya angka kekerasan anak ini bukanlah pertanda buruk, bisa jadi ini karena makin banyaknya masyarakat yang mengadukan hal ini, banyak tempat mengadu untuk kekerasan anak dan kita bisa mengetahui permasalahannya,” tuturnya.

Sebab itu pula UNICEF bekerja sama dengan Pemerintah melalui Kementrian Sosial, Bappenas dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membentuk PLKSAI  di setiap Kabupaten/Kota se-Indonesia. Selain di Solo, PLKSAI juga telah dibentuk di Makasar, Klaten, Tulungagung dan Gowa. (red)

Berikan Komentar