Kapolri Andalkan Media untuk Pulihkan Citra Polisi

oleh -393 views

garudaonline – Jakarta | Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengandalkan media untuk memulihkan citra polisi di masyarakat. Hal ini dikatakan Tito dalam pembukaan workshop Divisi Humas Polri di Mabes Polri Kamis (27/10).

“Pertama kali kita punya televisi, langsung tiga televisi yang yang berafiliasi ke Polri. Memang kita hendak memulihkan (citra polisi, Red) dengan langkah promoter (profesional, modern, dan terpercaya). Final outcome adalah membentuk polisi berkelas internasional,” kata Tito.

Setelah masa reformasi, Tito mengakui kepercayaan publik kepada polisi terus menurun. Untuk itu, polisi perlu membangun public trust. Caranya dengan perbaikan kinerja Polri, khususnya menyangkut layanan publik. Strateginya layanan itu berbasis teknologi informasi (TI), tidak diskriminatif, dan quick respons.

“SIM, STNK, SKCK serba-online sehingga peluang pungli kecil. Masyarakat juga lebih mudah mendapat pelayanan. Profesionalisme hukum, membangun sistem informasi kriminal, data base, intelijen, reserse, penyidikan, dan lainnya,” ujar Tito.

Polri juga berupaya untuk lebih mampu memelihara kamtibmas. Apabila kasus transnasional bisa cepat diungkap, hal itu juga akan membentuk kepercayaan publik. Pihaknya juga berupaya mengubah kultur karakter polisi agar lebih humanis, tidak mengedepankan arogansi kewenangan, dan tidak melakukan kekerasan berlebihan.

“Kita harap ada perubahan public trust kepada kita. Bagian penting kinerja itu 20 persen dari public trust. Perbaikan kultur 20 persen. Publik itu dinamis dan cair dan dipengaruhi sekali oleh media. Peran media itu penting. Satu anggota polisi berbuat baik, seperti Bripka Saladin, penyanderaan di Pondok Indah dan ending-nya sukses, maka itu sudah bisa menutupi sisi negatif polisi yang lain. Sebaliknya polisi menerima pungli, langsung persepsi publik polisi banyak pungli dan tidak profesional. Peran media membangun kepercayaan publik 60 persen, lebih dari kultur dan kinerja Polri,” kata Tito.

Oleh karena itu, paradigma hubungan kemasyarakat (humas) Polri ke depan harus diubah.

“Mungkin tahun sebelumnya humas dipakai sebagai fungsi tambahan, tetapi di era teknologi, gelombang ketiga, humas sudah menjadi fungsi utama. Fungsi humas perlu dibesarkan. Ada kecenderungan fungsi humas beberapa tahun sebelumnya lebih kepada jubir. Kabid humas lebih memerankan jubir, sehingga paradigmanya jubir sifatnya pasif. Kalau ini terjadi, kita didikte oleh media, pasif. Fungsi humas harus lebih ofensif dan agresif. Kabid humas atau kadiv humas jangan jadi jubir, tetapi desainer, master, yang merekayasa, bersikap proaktif mencari bahan positif-negatif yang berkembang di masyarakat dan mengelola sentimen negatif menjadi netral atau positif,” kata Tito. (red)

Berikan Komentar