Rajamin: Peredaran Narkoba Bagaikan Fenomena Gunung Es

oleh -837 views
Ketua DPW Partai Berkarya Provinsi Sumatera Utara Rajamin Sirait SE

garudaonline – Medan | Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Beringin Karya (Berkarya) Provinsi Sumatera Utara Rajamin Sirait SE, mengatakan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Sumatera Utara merupakan fenomena gunung es.

Artinya kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang ketahuan dan diusut oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut, Poldasu dan jajaran jumlahnya lebih sedikit, sedangkan kasus yang belum terungkap jauh lebih banyak dan masih tersembunyi.

“Hari ini banyak diungkap dan para bandarnya ditembak mati, tapi masih banyak lagi yang belum terungkap. Jadi¬† peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Sumatera Utara ini merupakan fenomena gunung es, di atas permukaan terlihat kecil, namun jaringannya tetap melebar ke bawah,” ujar Rajamin, kemarin.

Pria kelahiran Pematangsiantar, 25 Maret 1966 ini mengatakan, saat ini wilayah Pantai Timur Sumatera yang terbentang 575 kilometer dari Aceh hingga Kuala Tungkal di Jambi yang berbatasan dengan Selat Malaka, China, Singapore, Malaysia sangat rawan jadi akses peredaran narkoba.

“Luasnya Pantai Timur Sumatera ini membuat TNI, Polri dan Pemda kewalahan dan sulit untuk memeriksa seluruh kapal yang lintas yang tidak tertutup kemungkinan mambawa obat-obat terlarang. Belum lagi pelabuhan-pelabuhan.”

“Nah, di sini perlu peran aktif para Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) dan Administrator Pelabuhan (Adpel) untuk waspada terhadap digunakannya pelabuhan sebagai pintu masuk peredaran obat-obat terlarang,” katanya.

Menurutnya, pemberantas narkoba di Tanah Air dapat secepatnya dilakukan dengan hasil maksimal, asal ada sinergitas semua elemen. Tidak hanya dari BNN dan kepolisian saja, melainkan kepala saerah juga harus menjadi motor penggerak dalam perang melawan narkoba.

“Semua pihak harus memahami bahwa narkoba adalah ‘proyek’ melemahkan anak bangsa, karenanya perlu penanganan komprehensif dan bukan hanya lips service. Selama ini para kepala daerah hanya menjual jargon perang melawan narkoba, sekadar seremoni tanpa ada terobosan serius melawan kejahatan narkoba yang kian menggurita.”

“Kita melihat belum ada pemimpin yang serius menangani narkoba, hanya seremoni. Sebenarnya kita menantang kepala daerah yang berani, dia pemegang komando, punya uang, proyek, menjadi motor penggerak dalam perang melawan narkoba,” tuturnya.

Menurutnya, peran kunci yang bisa dijalankan oleh kepala daerah adalah dengan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum dalam menegakkan hukum. Lalu menjadi pemimpin dan membersihkan lembaga negara dari kejahatan narkoba. Karena apabila aparat berwenang terlibat narkoba akan mempersulit pemberantasan.

Rajamin mengatakan, maraknya narkoba saat ini yang menyasar seluruh lapisan masyarakat menggambarkan bahwa maraknya narkoba adalah proyek melemahkan anak bangsa, menghilangkan generasi produktif yang dibutuhkan bangsa dan negara.

Karenanya, pemerintah dan masyarakat punya peran yang sama besarnya dalam upaya pemberantasan dan menyadari hal ini. Penanganan masalah narkoba harus lah komperhensif tidak bisa parsial.

Selain diperlukan tindakan tegas penegak hukum dengan menembak mati para bandar, juga diperlukan upaya-upaya pencegahan misalnya dengan memperketat pintu masuk serta mengajak orang terdekat untuk menjauhi narkoba. Tingginya peredaran narkoba juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan.

“Banyak negara yang tidak suka bangsa ini besar, ini yang perlu disadari anak bangsa ini. Narkoba dan teroris ini proyek melemahkan, proyek menghilangkan generasi penerus. Negara tidak boleh kalah melawan bandar,” sebutnya.

Ia kemudian mencontohkan apa yang dilakukan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang sering dikecam melanggar HAM.

“Orang menyebut pelanggaran HAM karena menembak mati bandar. Sementara satu bandar itu bisa menyebabkan seribu orang mati, hidupnya hancur, coba bayangkan,” timpalnya.

(g.01)

Berikan Komentar