Rencana BEI Gerus Grafik Saham Big Cap

oleh -844 views

garudaonline, Jakarta: Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menambah indikator penilaian pembobotan saham dengan menghitung rasio batas minimum saham yang beredar di publik atau biasa disebut free float telah menggerus saham emiten berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap).

Saham emiten PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) amblas lebih dri 3 persen hanya dalam satu hari pada Jumat (9/11) kemarin.

Biasanya, harga saham berpeluang bangkit (rebound) usai terkikis cukup dalam, seperti juga halnya ketiga saham emiten barang konsumsi tersebut. Maka itu, sejumlah analis kompak merekomendasikan saham HM Sampoerna, Gudang Garam, dan Unilever Indonesia dalam sepekan ini.

“Kalau ada aksi jual yang masif seperti tiga saham itu biasanya ada yang menampung nantinya untuk membeli, jadi kemungkinan menguat ada,” ucap Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra , Senin (12/11).

Pelemahan terjadi karena jumlah free float ketiga saham itu masih rendah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas unit saham emiten big cap digenggam oleh institusi dibandingkan dengan ritel.

Diketahui, dalam surat keputusan direksi BEI nomor Kep-00001/BEI/01-2014 mengenai Perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat tertulis seluruh emiten wajib memenuhi free float minimal 7,5 persen.

Jumlah free float HM Sampoerna, Gudang Garam, dan Unilever terbilang minim, meski sudah memenuhi aturan yang ditetapkan BEI sejak 2016. Data BEI per 31 Oktober 2018 menunjukkan jumlah free float HM Sampoerna hanya 7,43 persen, Unilever Indonesia 14,22 persen, dan Gudang Garam 17,16 persen.

Angka itu masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan jumlah free float saham perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang rata-rata sudah mencapai 40 persen.

Walhasil, setelah rencana BEI untuk menambahkan indikator free float untuk mengukur bobot suatu saham mencuat ke publik, pelaku pasar pun langsung melepas saham HM Sampoerna, Gudang Garam, dan Unilever Indonesia. Penyebabnya, pelaku pasar khawatir bobot saham yang memiliki free float rendah akan turun atau bahkan keluar dari indeks LQ45 dan IDX30.

Kedua indeks itu merupakan acuan pelaku pasar dan perusahaan manajer investasi dalam bertransaksi. Jika bobotnya turun atau keluar dari indeks LQ45 dan IDX30, maka ketertarikan pelaku pasar dan perusahaan manajer investasi untuk membeli ketiga saham itu akan berkurang, sehingga berdampak buruk bagi kinerja saham.

“Kalau sebelumnya kan untuk menghitung bobot suatu saham misalnya hanya dengan nilai kapitalisasi pasar, volume nya, lalu likuiditasnya seperti apa. Sekarang ditambah dari sisi free float nya. Itu akan mengubah bobot saham nantinya,” papar Aditya.

Lebih rinci, BEI menghitung bobot saham untuk masuk LQ45 dan IDX30 dengan dua faktor. Faktor pertama adalah likuiditas yang terdiri dari nilai transaksi, frekuensi transaksi, jumlah hari transaksi di pasar reguler, dan kapitalisasi pasar. Faktor kedua berdasarkan fundamental, di mana BEI akan melihat dari sisi kinerja keuangan dan kepatuan perusahaan.

“Sebenarnya dengan aturan ini untuk mendorong juga perusahaan dengan kapitalisasi besar itu menambah jumlah free float-nya, jadi peluang masyarakat untuk memiliki saham itu semakin besar. Sekarang kan banyak dipegang institusi,” terang Aditya.

Per Jumat kemarin nilai kapitalisasi pasar HM Sampoerna sebesar Rp396,64 triliun, Unilever Indonesia sebesar Rp306,91 triliun, Gudang Garam sebesar Rp147,95 triliun. Ketiganya masuk dalam 10 emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar di BEI.

Lebih lanjut Aditya sendiri optimistis harga saham ketiganya bangkit minimal dua sampai tiga persen pada pekan ini. Dengan kata lain, pelaku pasar yang membeli saham itu akan mendapatkan cuan.

Terkait kondisi harga saham per akhir pekan lalu, saham HM Sampoerna jatuh paling dalam mencapai 10,29 persen ke level Rp3.400 per saham, Gudang Garam terkoreksi 3,13 persen ke level Rp77.500 per saham, dan Unilever Indonesia terkoreksi 4,67 persen ke level Rp40.325 per saham.

“Tapi nantinya pelaku pasar ujung-ujungnya akan melihat lagi fundamental perusahaan, kinerja keuangannya maksudnya seperti apa,” jelas Aditya.

Laporan Keuangan Emiten Big Cap Tumbuh Moderat

Mengutip laporan keuangan emiten masing-masing periode kuartal III 2018, HM Sampoerna membukukan laba bersih sebesar Rp9,69 triliun atau naik 3,85 persen. Kemudian, laba bersih Gudang Garam tercatat naik 6,46 persen menjadi Rp5,76 triliun dan Unilever Indonesia naik 39,6 persen menjadi Rp7,3 triliun.

Setali tiga uang, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee berpendapat saham emiten rokok dan barang konsumsi itu akan berbalik arah positif, khususnya pada awal pekan. Apalagi, khusus emiten rokok masih ada sentimen positif berupa batalnya kenaikan cukai rokok tahun depan.

“Kalau sudah jatuh sekali seperti Jumat kemarin biasanya saham-saham itu akan naik lagi,” tutur Hans.

Hanya saja, ia belum memasang target harga yang pasti untuk ketiganya. Namun, karena rencana penambahan indikator free float pada pembobotan saham baru berlaku tahun depan, jadi efeknya belum begitu terasa dalam waktu dekat.

“Potensi masih bagus karena ada pembatalan cukai rokok juga ya,” jelas Hans.

Bila melihat jadwal yang sudah ditentukan oleh Bursa Efek, lembaga itu akan melakukan sosialisasi dan diskusi dengan pelaku pasar pada pekan pertama hingga kedua November 2018. Setelah itu, BEI akan mengumumkan secara resmi terkait rencana penerapan free float pada indeks LQ45 dan IDX30 pada pekan ketiga bulan ini.

Selanjutnya, pengumuman perubahan konstituen dan bobot indeks di LQ45 dan IDX30 dilakukan pada pekan ketiga Januari tahun depan. Terakhir, rencana ini akan efektif mulai awal Februari 2019. (cnn/voshkie)

Berikan Komentar