Resmikan PLTU Cilacap, Jokowi Ingin Sumber Listrik Selain Energi Fosil

oleh -395 views

garudaonline, Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim tingkat keterjangkauan listrik (rasio elektrifikasi) di Indonesia telah mencapai 98,3 persen sampai akhir Desember 2018. Meski begitu, Kepala Negara ingin rasio elektrifikasi juga dibarengi dengan diversifikasi sumber listrik selain energi fosil.

Hal itu disampaikan saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap Ekspansi dengan kapasitas 1×660 Megawatt (MW) di Kelurahan Karangandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, Senin (25/2).

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rasio elektrifikasi nasional terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada awal pemerintahan Kabinet Kerja 2014 lalu, rasio elektrifikasi nasional tercatat sekitar 84,4 persen.

Rasio tersebut meningkat menjadi 88,3 persen pada 2015, 91,2 persen pada 2016, 95,3 persen pada 2017, hingga menyentuh 98,3 persen pada tahun lalu. Sementara tahun ini ditargetkan menyentuh 99,9 persen. Namun, tingginya rasio elektrifikasi nasional masih terpaku pada sumber energi fosil seperti batu bara.

“Listrik itu penting, tapi kami tidak ingin terus bergantung pada energi fosil, makanya kami mulai pembangkit listrik tenaga bayu atau angin. Lalu pembangkit listrik tenaga air juga dikembangkan karena Indonesia punya sungai yang banyak,” ujarnya.

Ia menuturkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sudah dikembangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Jeneponto di Provinsi Sulawesi Selatan.

“Pas saya ke sana, saya kaget, kincirnya gede-gede sekali. Ini mau kami lanjutkan di tempat-tempat lain yang anginnya besar,” katanya.

Lebih lanjut ia menginginkan agar diversifikasi sumber kelistrikan terus dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), hingga para pihak yang terlibat di sektor kelistrikan.

Tujuannya, tak hanya mencukupi kebutuhan listrik masyarakat, namun juga langkah antisipasi dari kelangkaan energi fosil pada masa mendatang.

“Agar tidak bergantung pada batu bara, tidak apa sekarang masih pakai, tapi nanti 50-100 tahun ke depan tidak pakai lagi. Nanti negara lain bingung, yang tidak punya batu bara atau minyak, tapi kami punya angin, tidak habis, air sungai, tidak habis,” sebutnya. (CNN/dfn)

Berikan Komentar