Rupiah dan Mata Uang Kawasan Asia Kompak Alami Pelemahan

oleh -39 views

garudaonline, Jakarta: Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (8/3) ini berada di level Rp14.215 per dolar Amerika Serikat (AS). Dengan posisi tersebut, rupiah melemah tajam 0,53 persen dibandingkan penutupan pada Rabu (6/3) yakni Rp14.142 per dolar AS.

Pagi ini, mata uang Asia memang melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,34 persen, sementara ringgit Malaysia melemah 0,21 persen. Kemudian, peso Filipina juga ikut lunglai 0,12 persen disusul oleh dolar Singapura yang melemah 0,02 persen.

Sementara itu, hanya baht Thailand dan yen Jepang saja yang menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Mata uang tersebut masing-masing menguat 0,03 persen dan 0,08 persen terhadap dolar AS. Adapun dolar Hong Kong tak menunjukkan perubahan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, mata uang negara-negara maju juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Euro melemah sebesar 0,01 persen dan dolar Australia 0,03 persen.  Hanya poundsterling Inggris saja yang mengalami penguatan terhadap dolar AS walaupun hanya 0,01 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan kali ini masih didominasi oleh penguatan dolar AS. Selain itu, pelemahan juga dipicu ekspektasi pelaku pasar pada rupiah yang kian ragu setelah pertumbuhan ekonomi global terpantau mendung.

Pada Selasa pekan ini, pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi di kisaran 6 persen hingga 6,5 persen. Sebelumnya target pertumbuhan ekonomi 2019 dipatok di kisaran 6,5 persen.

Ini berpengaruh terhadap rupiah. Maklum,  aktivitas ekonomi China erat kaitannya dengan Indonesia. China merupakan salah satu pasar ekspor terbesar Indonesia.

Ungkapan China diperburuk dengan pernyataan Bank Sentral Eropa pada Kamis (7/3) setempat bahwa pertumbuhan ekonomi zona Eropa berpotensi melambat. Potensi pelambatan tersebut akan membuat bank sentral di kawasan tersebut menggelontorkan stimulus.

Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi meramal pertumbuhan ekonomi zona Eropa hanya akan tumbuh 1,1 persen di tahun ini. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dari perkiraan Desember 1,7 persen.

Akibatnya, pelaku pasar sudah melihat pertumbuhan ekonomi yang paling solid hanyalah AS. Terlebih, ada ekspektasi bahwa bank sentral AS The Fed kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga acuan Fed Rate sekali di tahun ini.

Pada hari ini, rencananya pemerintah AS akan merilis data pendapatan pekerja non pertanian (non farm payroll). Jika data menunjukkan perbaikan, maka rupiah bisa-bisa kian terkapar lagi.

Dini memperkirakan dengan sentimen tersebut, rupiah akhir pekan ini akan bergerak di kisaran Rp14.060 hingga Rp14.200 per dolar AS.

“Tadinya saya lihat ada potensi koreksi pelemahan rupiah karena pelemahan ini sudah tujuh hari beruntun. Kalau ada penguatan, mungkin tidak terlalu signifikan,” jelas Dini. (CNN/dfn)

Berikan Komentar