Sambangi Xinjiang, PP Muhammadiyah: Bebas Beribadah, Tapi Tak Boleh Gunakan Fasilitas Negara

oleh -262 views

garudaonline, China: Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto mengatakan pemerintah China menjamin kebebasan beragama etnis minoritas Uighur di Provinsi Xinjiang yang sebagian besar beragama Islam.

Agung mengatakan dalam konstitusi China, setiap warga diberi kebebasan untuk beragama atau tidak. Hal itu diungkapkannya setelah mengunjungi Xinjiang sekitar pertengahan Februari lalu.

“Mau beragama apa saja boleh, mau tidak beragama juga gak apa-apa, tapi fasilitas milik negara memang tidak boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan termasuk beribadah,” kata Agung dalam pernyataannya yang dirilis situs resmi Muhammadiyah, Rabu (6/3).

Pernyataan itu diutarakan Agung menyusul dugaan persekusi termasuk larangan beribadah yang diterapkan pemerintah China terhadap etnis Uighur.

Otoritas China disebut membatasi hak-hak 10 juta etnis Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang seperti melarang berpuasa hingga beribadah di masjid.

Tak hanya itu, Beijing juga dikabarkan melarang Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya di Xinjiang untuk menumbuhkan janggut, menggunakan cadar, hingga memberi nama-nama Islami bagi bayi yang baru lahir.

Menurut Agung, otoritas China memperhatikan hak-hak warganya untuk beribadah. Sepulangnya dari China, dia mencatat bahwa terdapat 23 ribu masjid yang berdiri di Xinjiang.

Agung mengatakan dia bersama delegasi Muhammadiyah juga sempat melaksanakan solat Jumat di Hotan, barat daya Xinjiang, yang memiliki sekitar 500 jemaah.

Selain itu, Agung menyebut terdapat sedikitnya 27 ribu imam di Xinjiang yang bersertifikasi dan digaji pemerintah China.

Tak hanya Xinjiang, Agung juga sempat bertemu dengan Asosiasi Muslim Tiongkok ketika mengunjungi Beijing, Urumqi, Hotan, dan Kashgar.

“Sebenarnya perhatian pemerintah China itu ada. Dan kalo kami lihat sikap terhadap Muslim Uighur ini berbeda dengan di wilayah Timur China seperti Guangzhou, Shenzen dan lainnya,” kata Agung.

“Kelihatannya wilayah China di bagian timur situ tidak ada masalah, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang di sana mengatakan ‘kami solat di kampus, kita solat ashar di kampus tidak ada masalah’.”

Agung memaparkan Uighur merupakan etnis mayoritas penghuni Xinjiang. Namun, tidak semua Uighur adalah Muslim. Dari 2 juta penduduk Kota Hotan, ia memaparkan, sekitar 98 persen merupakan Uighur dan 72 persen adalah Muslim.

Sementara itu, Sebanyak 97 persen dari total 4,5 juta penduduk Kashgar merupakan Uighur. Sekitar 52 persen dari total pendudik kota tersebut merupakan Muslim.

Selain Agung, Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Trisno Raharjo, Lembaga Hubungan Luar Negeri Sudibyo Markus, Ketua Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah M Ziyad juga ikut dalam lawatan itu.

Selain PP Muhammadiyah, sejumlah perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama juga ikut serta dalam kunjungan itu. Lawatan selama sepekan itu dilakukan memenuhi undangan langsung dari pemerintah China. (CNN/dfn)

Berikan Komentar