Sejak Layanan BPJS Berlaku, Banyak Apotek di Medan Gulung Tikar

oleh -1.365 views

garudaonline – Medan | Layanan yang diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk pengadaan obat pasien, sangat mempengaruhi eksistensi apotek di Medan. Bahkan ada beberapa apotek yang akhirnya memutuskan untuk gulung tikar karena kehilangan pelanggan.

“Khususnya BPJS, pengaruhnya sangat besar bagi apotek. Saya juga punya apotek, tapi juga baru-baru ini terpaksa harus tutup,” kata Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Sumatera Utara (Sumut) Amin Wijaya, Kamis 28 September 2017.

Amin mengakui BPJS Kesehatan memiliki sisi positif dan negatif di masyarakat. Di satu sisi kata dia, masyarakat dimudahkan untuk mendapatkan obat, tapi di sisi lainnya mempengaruhi omzet dari penjualan obat, baik di apotek maupun Perusahaan Besar Farmasi (PBF).

“Sangat besar pengaruhnya. Jumlah orang yang membeli obat di Apotek sangat jauh berkurang. Memang ini merupakan satu transisi dari keberlangsungan bisnis yang dilakukan oleh apotek. Hanya saja bagi apotek yang tidak sanggup bertahan, lambat laun memang terpaksa harus menutup usahanya,” pungkasnya.

Tak hanya itu, maraknya razia, sambung Amin, juga sangat meresahkan pemilik usaha apotek. Sebabnya, instansi yang berwenang melakukan razia, malah justru lebih menyasar ke sarana apotek legal, bukannya yang ilegal.

“Jadi saya minta, kalau apotek tidak menjual yang macam-macam jangan lagi dicari-cari kesalahannya. Kalau mau mencari yang ilegal, janganlah mencari dari sarana yang legal. Di apotek, semua jenis obat boleh dijual. Hanya saja, dengan catatan, obat yang dijual harus mengantingi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” urainya.

Sementara itu, beberapa apotek di Kota Medan terpaksa memilih tutup, karena penjualan mereka merosot tajam. Seperti yang terjadi pada apotek di kawasan Jalan HM Yamin, Medan, tepatnya di sekitar kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan, sudah ada tiga apotek yang menutup usahanya.

Salah seorang pemilik apotek yang ada di kawasan itu mengaku, penjualan obat di tempatnya sudah di ujung tanduk. Resep dokter yang biasanya dapat mereka peroleh untuk menjual obat, kini sudah sangat jarang terjadi.

“Jangankan obat non-generik, semua obat di tempat kita sejak BPJS berlaku sudah sepi. Dalam sehari belum tentu ada obat resep yang ditebus. Paling yang bisa dijual cuma obat-obat biasa saja,” ujar wanita yang enggan menyebutkan namanya itu.

(fidel)

Berikan Komentar