Sempat Ditolak, Begini Asal Muasal Lipstik Merah

oleh -355 views

garudaonline, Jakarta: Lipstik merah kini jadi hal wajib dalam riasan wajah bagi perempuan. Meski kesannya beragam, dari yang positif hingga negatif.

Padahal, jika merunut rekam jejaknya, lipstik merah ternyata punya makna yang luas. Bukan hanya sekadar ‘riasan’ untuk wajah.

Pada masa awal kebangkitan kaum Kristiani dan awal kebangkitan Gereja di Inggris, tindakan sederhana seperti menggunakan lipstik dianggap berdosa karena dianggap ‘tipuan’. Santo Jerome mengatakan mengubah penampilan sama dengan tindakan melawan Tuhan, karena Tuhan telah memberikan wajah dan itulah yang harus diikuti (disyukuri).

Santo Cyprianus, Uskup Carthage dan tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Kristen di abad ke tiga ‘mengutuk’ pemakaian kosmetik atau hal lain yang dianggap ‘memalsukan’ penampilan. Ia juga mengatakan, pada umumnya wanita harus mengerti bahwa karya Tuhan tidak boleh dipalsukan dengan menggunakan pewarna kuning, bubuk hitam atau kosmetik apa pun yang merusak atau merubah wajah alami. Penggunanan kosmetik atau makeup saat itu dianggap pelanggaran terhadap kebenaran.

Dilansir dari Huftington Post pada tahun 1400-1500-an, gereja tetap aktif melawan gagasan wanita yang menggunakan makeup. Banyak yang menganggap wanita yang menggunakan makeup tidak serupa dengan wajah aslinya. Pada akhir 1700an Inggris juga mengeluarkan Undang-undang yang menyatakan bahwa setiap wanita yang menggunakan riasan wajah, rambut palsu atau bahkan sepatu heels akan mendapatkan hukuman.

Penolakan terhadap penggunaan makeup pada kaum perempuan pada dasarnya merupakan suatu gagasan/gerakan bahwa pria tidak ingin ditipu dengan riasan wajah yang mereka gunakan. Sikap seperti ini masih berlaku sampai sekarang, menurut survei You Gov, 63 persen pria berfikir, wanita menggunakan makeup untuk mengelabui orang agar berfikir mereka menarik.

Pada masa Perang Dunia II, pandangan masyarakat mengenai lipstik merah berubah. Lipstik merah menjadi simbol keberanian, patriotisme dan ketahanan. Pada masa Perang Dunia II, wanita di rumah melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pria, dikarenakan pria sedang berada di medan perang.

Rachel Weingarten, sejarawan kecantikan, mencatat bahwa makeup terutama lipstik mengalami pergeseran makna selama periode Perang Dunia II. Menurutnya hal itu terjadi kerena untuk menjaga semangat, dan menunjukkan bahwa perang berkecamuk. Hitler dikatakan sangat menghina lipstik merah, jadi ini terlihat sebagai pemberontakan. Warna merah, putih dan biru juga dianggap sangat patriotik. Ia juga menambahkan siapa pun yang pernah menolak kecantikan dan makeup tidak menyadari dampak budaya dan sosiologis yang ditimbulkannya. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar