Sering Menyebut Generasi Milenial Tapi Masih Belum Paham? Cek Pembahasannya Di sini

oleh -1.437 views

garudaonline, Jakarta: Gen Y atau generasi milenial kini mulai memasuki usia produktif.

Generasi yang lahir antara 1980 hingga 2000 ini kini dianggap mendominasi dunia kerja lantaran jumlahnya yang paling banyak ketimbang generasi lain. Pada 2020 mendatang, diprediksi setengah populasi usia produktif di Indonesia adalah milenial.

Fenomena generasi milenial ini juga berbeda dibanding generasi sebelumnya yakni generasi X. Generasi ini disebut memiliki banyak kelebihan, tapi di sisi lain juga mempunyai kekurangan. Benarkah demikian?

Di masyarakat sendiri ada banyak mitos dan fakta yang beredar soal generasi milenial. Kebanyakan mungkin bernada miring.

1. Mitos atau Fakta: Milenial, generasi yang lahir besama teknologi?

Yoris Sebastian penulis buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia mengungkapkan bahwa milenial bukanlah generasi yang lahir bersama teknologi, melainkan generasi yang tumbuh bersama teknologi. Yoris menjelaskan generasi kelahiran 1980-2000 masih sempat merasakan teknologi analog dan beralih menuju teknologi yang serba digital.

Perkembangan teknologi mulai tumbuh pesat pada tahun 2000-an. Sehingga kaum milenial mulai merasakan manfaat teknologi saat sudah mulai beranjak remaja atau dewasa.

“Kalau Gen Y ini masih sempat analog terutama yang 80-an. Nah, kalau Gen Z itu baru generasi yang lahir bersama teknologi. Itu sudah menjadi anak kandung digital,” kata Yoris.

2. Mitos atau Fakta: Milenial adalah generasi yang instan?

Generasi milenial yang tumbuh pesat bahkan mengungguli generasi sebelumnya, membuat milenial sering kali dijuluki generasi yang instan. Namun, Yoris tak setuju jika generasi milenial disebut generasi instan.

Menurut Yoris, generasi ini lebih cocok disebut generasi yang cepat. Kehadiran teknologi yang memudahkan penyebaran informasi dan mobilitas membantu generasi milenial mencapai sesuatu lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya yang serba analog.

“Hampir semua bilang ini generasi instan. Tapi, yang saya lihat sebenarnya ini generasi cepat, bukan berarti tidak berproses,” ucap Yoris yang merupakan pengusaha di industri kreatif.

3. Mitos atau Fakta: Finansial adalah faktor penentu performa milenial dalam pekerjaan?

Yoris menilai pernyataan ini lebih tepat disematkan pada gen X. Pada generasi milenial (gen Y), faktor finansial bukan satu-satunya faktor penentu dalam performa kerja. Lingkungan, kenyamanan dan keuntungan lain yang didapatkan dari pekerjaan menjadi nilai penentu yang tak kalah penting dibanding finansial dalam performa pekerjaan.

“Zaman dulu faktanya finansial itu faktor penentu. Mau dimarahin atau bagaimana pun yang penting gaji di bawa pulang. Kalau sekarang, milenial ingin finansial bagus, hatinya juga bagus. Masuk kuping kanan turun ke hati, karena mudah baper,” tutur Yoris.

4. Mitos atau fakta: Milenial generasi kutu loncat?

Milenial identik dengan julukan kutu loncat atau hobi berpindah-pindah kerja dalam kurun waktu yang singkat. Menurut Yoris, beberapa milenial cenderung menjadi kutu loncat jika tidak menemukan tantangan dan kenyamanan dalam bekerja.

Jika sudah mendapatkan yang sesuai, milenial juga dapat bertahan pada suatu pekerjan dalam kurun waktu yang lama.

“Ternyata mulai banyak yang kerja 3-5 tahun. Itulah kebebasan milenial punya pilihan bisa kutu loncat atau bertahan asalkan mereka merasa berkembang dan mendapatkan tantangan baru,” kata Yoris yang sudah menulis sembilan buah buku ini. (cnn/voshkie)

Berikan Komentar