Sidang Gugatan Dilanjutkan, Saksi Ahli Sebut PLTA Batangtoru Berada di Zona Berbahaya

oleh -286 views

garudaonline, Medan: Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru berada di zona merah patahan yang cukup berbahaya. Jika terjadi gempa, banyak potensi bahaya yang mengancam proyek yang dikerjakan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tersebut.

Hal itu dikatakan Teuku Abdullah Sanny sebagai saksi ahli Geofisika asal Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sidang gugatan izin lingkungan PLTA Batangtoru di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Medan, Senin (7/1/2019).

Teuku Abdullah Sanny menjelaskan, bendungan yang menjadi sumber energi tersebut memang tidak berada tepat di patahan. Namun vibrasi atau getaran dari gempa di patahan bisa memberikan pengaruh yang signifikan.

“Di dekat situ ada patahan, di peta lima kilometer dari situ. Bagaimana pengaruh patahan atau vibrasi terhadap Bendungan. Itu yang perlu diperhatikan. Perlu dilakukan penelitian detil,” ungkapnya dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Jimmy Claus Pardede

Penelitian detil dari aspek geofisika memang sangat dibutuhkan. Karena zona merah dikatakan sebagai zona yang berbahaya. Belum ada penelitian yang menunjukkan jika lokasi pembangunan bendungan berada di segmen yang paling berbahaya. Dia tidak berani menjamin jika proyek itu diteruskan tanpa penelitian dari aspek geofisika.

“Saya tidak tahu seperti apa. Karena bisa berbahaya di zona merah. Artinya sekarang tektonik begitu aktif. Gempa di mana-mana. Jika sudah jadi bendungan bisa menimbulkan problem besar bagi lingkungan, sosial, masyarakat dan segala macam,” ungkapnya.

PT NSHE juga diduga menggunakan bahan peledak dalam jumlah besar untuk membuat terowongan. Kata Abdullah, penggunaan bahan peledak juga memberikan pengaruh dan berpotensi membuat fracture (patahan) baru.

“Jelas berpengaruh. Tapi bagaimana pengaruhnya mungkin mereka sudah menghitung atau bagaimana saya belum tahu,” ungkapnya.

Penggunaan bahan peledak, kata dia, bisa menjadi pemicu ampifikasi batuan yang ada di sana. Sehingga dia kembali menekankan untuk dilakukan penelitian detil.

“Penelitian harus meyakinkan itu diteruskan atau tidak atau dipindahkan. saya juga belum bisa mengatakan sekarang. Tapi yang jelas Sudah wanti-wanti. Para ahli di seluruhdunia sama kesepakatannya, itu berada di zona merah,” jelasnya.

Dari skala 1-10, PLTA Batangtoru berada di angka enam dari sisi bahaya karena dibangun di dalam zona merah.

Koordinator Kuasa Hukum WALHI sebagai penggugat Golfrid Siregar terus mempertanyakan kenapa aspek geofisika terkesan dikesampingkan menilik dari dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTA.

“Makanya kita pertnyakan, ini masalah bendungan. Ini masalah Dam. Bahwa mereka mengetahui lokasi itu rawan gempa. Tapi kenapa mengenyampingkan geologinya,” tukasnya.

Dalam persidangan pihak NSHE juga mendatangkan Ketua Tim Penyusunan Amdal, Jonis Ginting. Namun sayangnya, Jonis enggan dimintai keterangan.

“Kalau untuk wawancara saya tidak ada waktu,” ujarnya sambil berlalu dengan beberapa orang dari NSHE usai sidang.

Pembangunan PLTA berkapasitas 510 Megawatt itu terus menuai polemik. Selain berpotensi menimbulkan bahaya baru, pembangunan PLTA menjadi ancaman bagi spesies Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) yang baru diumumkan pada November 2017 lalu. Jumlahnya yang berada di angka dibawah seribu ekor menempatkannya dalam status terancam punah. (dfnorris)

Berikan Komentar