Sindikat Pembobol Asrama Santa Anna Tanjungbalai Ditangkap

oleh -375 views
Tim Gurita Satreskrim Polres Tanjungbalai merilis kedua tersangka pelaku pembobolan Asrama Katolik Santa Anna Tanjungbalai (4 dan 5 dari kiri) berikut barang bukti 11 unit handphone

garudaonline – Tanjungbalai | Dua anggota sindikat pembobol Asrama Katolik Santa Anna Tanjungbalai berhasil ditangkap Tim Gurita Satreskrim Polres Tanjungbalai.

Keduanya diciduk dari rumah kos salah seorang tersangka di Jalan Abadi, Kelurahan Tanjungbalai Kota II, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai.

Dari penangkapan itu, polisi menyita barang bukti sebilah parang yang digunakan untuk merusak pintu asrama dan 11 unit handphone milik para korban yang dicuri kedua tersangka.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira, S.I.K., M.H mengatakan, kedua tersangka yang hingga saat ini masih dalam proses pemeriksaan adalah, BKS (18) dan FPP (18).

“Satu dari dua tersangka, yakni BKS statusnya masih pelajar. Keduanya warga Desa Perbangunan, Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan,” kata Putu melalui siaran persnya diterima wartawan, Selasa (26/11/2019).

Dikatakan penangkapan kedua tersangka ini atas laporan pengaduan Biarawati atas nama Suster Felisiana Sinaga (48) warga Jalan Abadi, Kelurahan Tanjungbalai Kota II, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai.

“Dalam pengaduannya pelapor mengaku, pada Minggu (24/11/2019) sekira pukul 10.00 WIB pihaknya mendapat laporan bahwa handphone para pelajar hilang dari dalam asrama.”

“Ada sekitar 12 unit handphone yang hilang. Pada saat itu handphone para korban memang ditinggal di dalam asrama karena mereka mengikuti ibadah di gereja,” terang Putu.

Mendapat laporan itu, sambung Putu, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya, kedua tersangka berhasil ditangkap lengkap dengan barang buktinya.

Dari hasil pemeriksaan, kedua tersangka mengaku membobol asrama dengan cara mencongkel pintu utama menggunakan sebilah parang.

Setelah pintu terbuka, mereka lantas mengambil setiap handphone yang tergeletak di empat ruangan yang ada di dalam kamar asrama.

Kemudian, kedua tersangka membawa dan menyembunyikan ke-12 unit handphone hasil curiannya itu di atap rumah kos salah seorang tersangka.

“Satu dari dua tersangka ini pernah tinggal di asrama itu, jadi dia tau benar situasi kondisi asrama,” papar Putu.

Terhadap kedua tersangka hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan. Mereka dipersangkakan dengan Pasal 363 ayat 1 ke-4, ke-5 dari KUHPidana dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

(g.01)

Berikan Komentar