Suku Asli Amerika Minta Turis Tak Bawa Pemandu Wisata ke Grand Canyon

oleh -406 views

garudaonline, Jakarta: Bukan cuma menjadi habitat bagi pohon dan hewan asli Amerika, Taman Nasional Grand Canyon juga menjadi rumah bagi suku asli Amerika, salah satunya Suku Havasupai.

Setiap tahunnya ribuan turis datang untuk memperdalam wawasan mengenai sejarah terbentuknya Negeri Paman Sam dari sudut pandang suku ini.

Tak sedikit juga yang datang untuk menikmati panoramanya yang indah, mulai dari danau sampai air terjun jernih.

Kedatangan turis ke sana tentu saja membawa banyak manfaat untuk operator wisata.

Namun, pada tahun ini, warga Suku Havasupai meminta turis agar datang tidak dengan pemandu wisata.

Dikutip dari AP pada Selasa (29/1), alasan dari permintaan tersebut agar warga Suku Havasupai dapat menjadi operator wisata di tanahnya sendiri.

Abbie Fink, juru bicara Suku Havasupai, mengatakan permintaan tersebut bukan berarti kaumnya menolak pengembangan wisata, namun ia ingin wisata yang berlangsung lebih berkelanjutan dan adil.

Selama bertahun-tahun operator wisata mendapat untung dari layanan mengantar turis wisata di pemukiman Suku Havasupai. Mereka membeli surat izin berkunjung secara borongan.

Operator wisata membayar surat izin berkunjung selama setahun lalu membawa turis ke dalam kawasan dengan fasilitas dan layanan yang memanjakan: kursi tiup empuk, makanan mewah, sampai terapis pijat.

Fink tidak mengetahui berapa pendapatan yang diterima operator wisata atas tur ke kawasannya. Namun ia mengatakan kalau pihaknya saat ini akan mengevaluasi penerbitan surat izin berkunjung untuk tahun 2020.

Pemukiman Suku Havasupai di pedalaman Grand Canyon hanya bisa tempuh oleh pendakian atau helikopter. Setiap tahunnya kawasan ini dikunjungi hingga 40 ribu turis.

Kawasan ini ditutup setiap bulan Desember dan Januari untuk konservasi. Selebihnya kawasan dibuka sepanjang tahun, karena sebenarnya Suku Havasupai sangat bergantung pada pendapatan dari industri pariwisata.

Suku Havasupai tidak memberi izin pendakian pada siang hari, sehingga turis yang ingin berkeliling kawasan wajib bermalam di pondok-pondok sederhana yang telah mereka sediakan atau mendirikan tenda, yang memerlukan surat izin lainnya.

Kamar-kamar di pondok, yang hanya dapat dipesan melalui telepon, terjual habis untuk tahun ini. Pemesanan untuk tahun depan dimulai 1 Juni 2019.

Sementara itu layanan pengajuan surat izin berkemah untuk tahun ini akan dibuka pada 1 Februari 2019, yang selalu habis dalam waktu singkat seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Pemesanan tempat untuk berkunjung ke kawasan Suku Havasupai bisa dibilang hampir mirip dengan perburuan tiket menonton konser boyband Kpop.

Harga pengurusan surat izin berkemah adalah US$100 (sekitar Rp1,4 juta) per orang per malam untuk hari Senin hingga Kamis, dan US$125 (Rp1,7 juta) per orang per malam untuk hari Jumat hingga Minggu.

Tarif tersebut merupakan tarif tahun ini, yang telah dinaikkan dari tahun sebelumnya.

Suku Havasupai memberikan sekitar 300 surat izin berkemah setiap hari, kata Fink.

Christine Miller, yang bekerja dengan operator wisata Wildland Trekking, mengatakan para turis dapat menemukan rekomendasi barang bawaan atau tempat bermalam di kawasan Suku Havasupai melalui internet jika nantinya pemandu wisata dilarang datang ke sana.

Namun, Miller mengatakan, pemandu wisata sebenarnya berguna bagi turis yang ingin mengetahui cara menuju danau, air terjun atau gua.

“Tidak ada peta yang benar-benar bagus di luar sana untuk memberi tahu Anda kapan harus menyeberang, kapan tidak untuk menyeberangi sungai,” katanya Miller.

Sebelumnya pada tahun 2016 Suku Havasupai sempat membekukan izin berkunjung karena alasan kelestarian lingkungan. Namun Fink tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dampak setelah penutupan tersebut. (CNN/voshkie)

Berikan Komentar