Terkait Polemik Iuran Tenis Masih Berlanjut, Farid Wajdi Banjir Dukungan

oleh -303 views

garudaonline, Medan: Wawancara Farid Wajdi terkait iuran turnamen tenis yang dimuat di harian Kompas beberapa waktu lalu ternyata berbuntut panjang.

Akibatnya sejumlah hakim Mahkamah Agung (MA) melaporkan juru bicara Komisi Yudisial tersebut ke polisi.

Meski demikian ramai dukungan yang ditujukan pada Farid Wajdi sebab menganggap laporan MA tersebut tak berdasar.

Dukungan muncul dari lembaga-lembaga pembela Hak Asasi Manusia (HAM) dan organisasi mahasiswa. Dibawah nama aliansi Koalisi Rakyat Sumatera Utara Bersih (KORSUB), puluhan massa berunjuk rasa di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (18/12).

Tidak hanya massa dari organisasi mahasiswa, unjuk rasa juga diikuti para pengemudi becak motor (red : Pebetor). Para Pebetor menganggap, apa yang dilakukan para ‘Wakil Tuhan’ sungguh tidak bisa dibenarkan.

Perwakilan massa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Maswan Tambak mengatakan, pelaporan yang dilakukan adalah bentuk ‘kecengengan’ dari para hakim. Apalagi yang dilaporkan bentuknya produk jurnalistik. Harusnya para hakim menyelesaikamnya dengan mekanisme sengketa pers.

“ada upaya kriminalisasi. karena kalau menurut kami hal ini merupakan suatu tindakan dari satu lembaga yang secara konstitusional, merupakan lembaga peradilan tertinggi. (Pelaporan) itu merupakan hal yang sangat cengeng. Kan masih ada upaya-upaya yang mungkin bisa bisa dikomunikasikan secara kelembagaan,” ungkap Maswan disela unjuk rasa.

Dia juga mengkritik, selama ini lembaga Mahkamah Agung juga belum memberikan pelayanan yang maksimal. MA malah lebih banyak melakukan hal-hal yang bukan merupakan tugas pokoknya sebagai lembaga tertinggi peradilan.

” Kami kecewa dengan kinerja MA hari ini. Maka dari itu kami menuntut, Ketua MA (Hatta Ali) harus turun dari jabatannya,” ujarnya.

Massa mengunginkan MA mengevaluasi lembaganya. Jangan sampai, sebagai ‘Wakil Tuhan’ MA malah melakukan kriminalisasi kepada lembaga yang mengawasinya.

Aksi unjuk rasa berlangsung damai. Massa sempat memainkan teatrikal yang berisi kritik kepada MA. Massa juga menandatangani spanduk berisi dukungan kepada Komisi Yudisial supaya tetap melakukan kritik kepada lembaga yang diawasinya.

Sebelumnya Farid dilaporkan karena pernyataannya sebagai narasumber pemberitaan di Harian Kompas bertajuk “Hakim di Daerah Keluhkan Iuran”.

Pernyataan tersebut berisi tentang adanya iuran pelaksanaan turnamen tenis Piala MA di Bali.

Pihak kepolisian menyatakan telah meningkatkan kasus ini ke tahap penyidikan. Farid dilaporkan dengan dua surat berbeda dengan nomor LP/4965/IX/2018/PMJ/Dit.reskrimum dengan pelapor atas nama Syamsul Maarif dan LP/4965/IX/2018/PMJ/Dit.Reskrimum dengan pelapor atas nama Cicut Sutiarso.

Farid diduga melanggar Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45a ayat 2 dan/atau Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 3, UU no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU ITE, serta Pasal 310 dan/atau 311 KUHP tentang menyerang kehormatan dan pencemaran nama baik. (dfnorris)

Berikan Komentar