Tiga Bulan Pasca Gempa, Warga Lombok Masih Tidur di Tenda Pengungsi

oleh -697 views

garudaonline, Jakarta: Sekitar tiga bulan pascagempa, ratusan keluarga di tiga Dusun Jelateng, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih menempati tenda-tenda pengungsian.

Ada sekitar lima titik pengungsian. Satu titik di Jelateng Barat, Satu titik di Jelateng Timur, dan tiga titik di Jelateng Tengah. Di setiap titik ada puluhan keluarga yang mengungsi.

Warga mengaku terpaksa masih menempati pengungsian karena sebagian besar rumahnya mengalami kerusakan berat bahkan hancur.

Mantan Kepala Dusun Jelateng Timur, Jaelani, mengatakan bahwa sebagian rumahnya hancur akibat gempa yang terjadi pada Agustus 2018. Hingga kini, ia masih menempati tenda pengungsian bersama warga lainnya.

“Sementara tinggal di sini dulu bareng sama warga. Di sini ada tiga dusun di Jelateng ini, jumlahnya sekitar 550 kepala keluarga. Warganya 1.350-an jiwa,” kata Jaelani saat ditemui di pengungsian, Sabtu (17/11).

Tenda yang ditempati Jaelani merupakan salah satu tenda pengungsian bersama. Bentuknya cukup besar dan memanjang, yakni sekitar 5 x 8 meter. Tenda ini cukup untuk menampung puluhan warga.

Namun kondisinya cukup memprihatinkan, karena menggunakan alas seadanya. Ketika siang hari, suhu di dalam tenda sangat panas dan terasa pengap.

Ketika hujan besar mengguyur wilayah Jelateng, area pengungsian ini kerap tergenang banjir akibat meluapnya air sungai yang jaraknya tidak jauh dari sini. Selain itu karena posisi pengungsian berada di dataran yang lebih rendah, jika dibandingkan dusun lainnya.

Jaelani mengaku sesungguhnya tidak betah tinggal di pengungsian. “(Tapi), ya mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Lain Jaelani, lain juga cerita Jalim Dahlan, mantan Kepala Desa Gegerung. Ia harus menjual sebagian besar ayam ternak dan mengubah kandangnya untuk dijadikan tempat tinggal. Sebab rumahnya hancur akibat gempa yang melanda sekitar tiga bulan lalu.

Ia mengatakan sempat mengungsi di halaman sekolah yang ada di depan rumah. Namun setelah satu minggu, kegiatan belajar mengajar di sekolah itu kembali aktif. Mau tidak mau, dirnya harus pindah dari pengungsian itu.

Ia kemudian terfikir mengubah kandang ternak ayam menjadi tempat tinggal sementara. Tempat tinggal ini tidak seperti rumah. Hanya berbentuk pelataran dengan dua kamar yang disekat menggunakan papan. Atapnya menggunakan seng.

“Kalau siang panas, gerah,” ucap Jalim.

Bantuan Tak Lagi Datang

Baik Jaelani maupun Jalim berharap bantuan kembali datang ke Desa Gegerung. Karena warga di sini masih memerlukan uluran tangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Mereka mengaku pasca gempa menerpa wilayahnya berbagai bantuan datang dari berbagai pihak. Bagi warga, ini sangat membantu meringankan beban.

Namun, pasca gempa dan tsunami menerpa Sulawesi Tengah pada September 2018, bantuan yang datang ke wilayahnya berangsur berhenti. Bantuan terkahir datang sekitar satu bulan lalu dari salah satu pihak swasta.

“Mungkin pada [fokus] ke [bencana di)]Palu, jadi di sini sudah setop [bantuan],” kata Jaelani.

Padahal, katanya, warga masih butuh bantuan, khususnya makanan. Selain itu, pihaknya mengusulkan bantuan pendampingan trauma psikologis bagi anak-anak. Sebab, masih banyak yang takut gempa besar kembali melanda.

Diketahui, gempa susulan masih kerap terjadi hingga saat ini di wilayah NTB meski getarannya terbilang kecil.

Jalim juga berharap pendirian posko darurat bencana untuk mengkoordinasi warga dan menjadi jembatan penghubung warga dengan para pihak yang bisa memberikan bantuan, termasuk pemerintah.

“Saya berharap kalau bisa ada yang mau memberi bantuan, kalau ada posko sebagai penengah, koordinator antara masyarakat dan pemerintah,” tutupnya. (cnn/voshkie)

Berikan Komentar