Usai Diperiksa, Ketua PN Medan Tampar Kamera Wartawan

oleh -576 views
Marsuddin saat diboyong tim KPK

garudaonline – Medan | Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan terhadap empat orang hakim, dua panitera pengganti pada Pengadilan Negeri Medan dan dua pihak swasta, Selasa 28 Agustus 2018. Tim KPK meminjam gedung Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumut untuk memeriksa kedelapan orang ini.

Ke delapan orang yang diamankan yakni Ketua PN Medan Marsuddin Nainggolan, Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo, dan hakim lainnya Sontan Merauke dan Merry Purba (hakim adhoc) serta dua panitera tipikor Pengadilan Negeri Medan, Elfandi dan Oloan Sirait. Selain itu dua orang dari pihak swasta.

Di Gedung Kejati Sumut, pemeriksaan dilakukan secara tertutup. Sejumlah wartawan yang menunggu sejak pagi, tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung Kejati Sumut dan terpaksa menunggu di halaman belakang.

Sekitar pukul 18.00 WIB, tim KPK memboyong Ketua PN Medan Marsuddin Nainggolan keluar dari pintu depan gedung Kejati Sumut. Marsuddin mengenakan kemeja berwarna gelap. Tak seperti biasanya, Marsuddin juga mengenakan topi hitam untuk menutupi wajahnya.

Marsuddin terus menunduk dan menghindar dari kejaran wartawan. Bahkan Marsuddin menampar kamera salah seorang photografer saat mencoba memfotonya.

“Apa kamu foto-foto saya, udah puas kan kalian memotoku. Apa ngak kurang dekat dan jelas wajahku,” ucapnya dengan nada tinggi sembari menumpangi mobil Honda Freed berwarna putih BK 1823 GS yang parkir di halaman depan Gedung Kejati Sumut.

Tak hanya Marsuddin, staf PT Erni Putera Terari, Sudarmi dan satu orang lainnya dari pihak swasta juga tampak dibawa pihak KPK keluar dari pintu belakang gedung Kejati Sumut. Mereka diboyong ke Bandara Kualanamu untuk diterbangkan ke Jakarta.

Sementara tiga orang hakim dan dua panitera lainnya belum tampak meninggalkan Gedung Kejati Sumut. Pengusaha ternama Kota Medan, Tamin Sukardi didampingi penyidik KPK juga tampak mendatangi Kantor Kejati Sumut. Setelah beberapa jam, Tamin Sukardi dibawa KPK tampak meninggalkan Gedung Kejati Sumut.

Tamin Sukardi, Direktur PT Erni Putra Terari merupakan terdakwa kasus tindak pidana korupsi penjualan tanah yang masih berstatus aset negara dengan nilai lebih dari Rp 132 miliar.

Tamin menjual 74 hektare dari 106 hektare lahan yang dikuasainya kepada Mujianto selaku Direktur PT Agung Cemara Reality sebesar Rp236.250.000.000.

Dalam kasus ini, Wahyu Prasetyo Wibowo, Sontan Merauke dan Merry Purba merupakan majelis hakim yang menyidangkan perkara yang menjerat Tamin Sukardi. Sedangkan Elpandi adalah panitera sidang tersebut.

Majelis hakim menghukum Tamin Sukardi selama 6 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan dalam sidang beragenda putusan di PN Medan, Senin 27 Agustus 2018.

Putusan itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa selama 10 tahun penjara. Persidangan kasus ini sejak awal memang dipantau oleh tim KPK dan Komisi Yudisial.

(voshkie)

Berikan Komentar