Yusro Hasibuan Praperadilankan Kapolda Sumut

oleh -391 views

garudaonline, Medan: Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto dipraperadilkan oleh aktivis asal Kabupaten Batubara M Yusro Hasibuan atas penangkapan dirinya pada Selasa (6/11) lalu.

Yusro memohon agar hakim menyatakan penahanan dan penangkapannya tidak sah.

Dalam pemeriksaan saksi dari pihak Yusro (pemohon) terungkap jika aktivis tersebut dibawa polisi saat keluar dari Gedung DPRD Kabupaten Batubara. Yusro disangkakan telah mencemarkan nama baik Kapolda Sumut.

Yusro saat itu bersama dua rekannya keluar dari gedung DPRD sekira pukul 16.00 WIB. Kemudian sejumlah petugas berpakaian sipil memanggilnya dan menunjukkan beberapa surat.

“Setelah keluar, ada polisi yang menyetop Yusro, dan memberikan sebuah surat,” kata saksi Aditya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (4/1).

Dalam persidangan dengan agenda tambahan bukti surat dan Pemeriksaan saksi-saksi dari Pemohon serta saksi dari Termohon, itu aditya mengatakan tidak ada dialog panjang antara Yusro dengan petugas. Dia langsung masuk ke dalam mobil ikut bersama petugas.

Surat yang diberikan kepada Yusro sempat dilihat Aditya. Kata dia judulnya adalah Surat Klarifikasi, berkop Polda Sumatera Utara.

Sempat terdengar kabar, bahwa Yusro dibawa ke Polres. Aditya dan damaini lalu mengecek ke Polres Batubara. Namun di sana Yusro tidak ada.

Malam harinya, Yusro di kabarkan menelepon ke keluarganya. Dia ternyata di bawa ke Polda Sumut.

Setelah mendengarkan saksi, persidangan yang dipimpin Hakim Tunggal Sayuti ditunda minggu depan dengan agenda mendengarkan saksi dari pihak termohon.

Usai persidangan, Maswan Tambak selaku kuasa hukum dari Yusro menyebut, ada kejanggalan dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Kapolda Sumut yang menyeret kliennya menjadi tersangka. Kasus itu terkesan dipaksakan.

“Saat penangkapan, yang ditunjukkan adalah surat klarifikasi, bukan surat penangkapannya,” katanya.

Pihaknya malah mendapat surat penangkapan tertanggal 7 November 2018. Tepatnya sehari setelah penangkapan. Kata Maswan, penangkapan Yusro juga sudah melanggar KUHAP.

Untuk diketahui, Yusro ditangkap polisi setelah mengirim kata-kata ‘Copot Kapolda’ di dalam sebuah percakapan grup Whatsapp. Kini M Yusro Hasibuan menuntut keadilan karena merasa tidak mencemarkan nama baik institusi berbaju coklat tersebut.

Kasus penangkapan terhadap Yusro berawal pada 27 September 2018 lalu. Yusro mengirim sejumlah foto-foto unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa Siantar-Simalungun mengecam tindakan represif aparat terhadap mahasiswa di Kota Medan ke grup percakapan Whatsapp ‘Berita Batubara (Online)’.

Lalu foto itu pun dikomentari. Ada yang bertanya dimana aksi itu dilakukan.

Pertanyaan tersebut lantas dijawab dengan tulisan ‘siantar simalungun, GMNI, GMKI, HMI, Himmah, BEM dan lain lain. Mengutuk tindakan represif oknum Polri. Copot Kapoldasu’. Atas jawaban itu pula, Yusro hingga saat ini mendekam dalam tahanan Polda Sumatera Utara

Namun belakangan kasus penangkaan itu terlihat ganjil. Yusro dituduh melakukan pencemaran nama baik Kapolda Sumatera Utara melalui jerat Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Yusro dilaporkan ke Polda Sumut pada 7 November 2018. Ada rentang waktu yang cukup lama, antara isi chat dengan pelaporan. Artinya laporan pengaduan tersebut dilakukan setelah 40 hari kemudian. Yusro diamankan oleh beberapa orang polisi yang mengaku berasal dari Polda Sumatera Utara, Senin (6/11). (dfnorris)

Berikan Komentar