Siswa SUPM Aceh Tewas Diduga Dianiaya Senior, Keluarga Minta Polisi Usut Tuntas

oleh -296 views

garudaonline, Medan: Raihan Al Sahri (16) telah berpulang, namun duka masih bersarang di tengah keluarga yang tinggal di Jalan Rumah Potong Hewan, Gang Sastro, Mabar, Medan Deli ini.

Seperti diketahui jasad Raihan, siswa kelas I Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, ditemukan tewas tak jauh dari sekolahnya, pada (1/3)

Saat diketemukan, mayatnya terlihat telah membusuk dan ditutupi dedaunan.

“Yang pertama kali menemukan Rayhan pertama kali seorang pengembala lembu sekitar pukul 11.30 Wib,” kata Sofyan (42), ayah Raihan, Selasa (5/3).

Di wajah, belakang kepala dan tangannya ditemukan luka memar diduga akibat pukulan benda tumpul. Keluarga menduga pemuda yang akrab disapa Aan itu tewas dianiaya.

Sofyan mengaku mendapat kabar anaknya kerap mendapat tekanan dari kakak kelasnya. “Di sekolah, apa yang diinginkan kakak kelas, mereka (adik kelas) harus bisa memberikan,” ujarnya.

Ibu Raihan, Reni Rahayu (41) menambahkan, putranya kerap mendapat perlakuan keras dari kakak kelas. “Dia (Raihan) pernah cerita, punya teko dan disuruh ambilkan bubur. Karena nggak penuh dia ambil buburnya, lalu ia ditunjang dan tercampak. Tekonya rusak akibat ditendang kakak kelas itu. Itu cuma karena tidak penuh mengambilkan bubur,” sebutnya.

Reni ikut suaminya untuk menjemput jenazah Raihan di Aceh. Di sana, beberapa teman Raihan menceritakan, putranya didatangi kakak kelas ke kamar, sebelum hilang, Rabu (27/2).

“Temannya bercerita, anak saya (Raihan) dipanggil dan ditarik. Dia diancam beberapa orang senior,” cerita Reni. “Jangan ada yang buka mulut dan ikut campur. Kalau kalian buka mulut rusak kalian semua,” lanjutnya.

Selain ditarik, dari cerita yang didapat Reni, Raihan juga dipukul. Dia sempat lari ke masjid, namun dia kembali dipukuli di sana.

“Terus dia lari ke belakang sekolah dan setelah itu tidak ditemukan, hingga akhirnya dua hari kemudian anak saya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” sebut Reni, masih menceritakan informasi yang dia dapat dari teman Raihan.

Sofyan juga mendapat kabar putranya punya piutang Rp 10 ribu atau Rp 30 ribu. “Ada yang bilang kakak kelas punya utang ditagih marah. Ada yang bilang sebaliknya,” sambung Sofyan.

Dia menambahkan, Raihan merupakan sosok yang suka bercanda dan rajin membantu. Keluarga terakhir bertemu anak kedua dari 5 bersaudara itu dalam keadaan hidup saat dia pulang ke Medan pada 4 Januari 2019.

Sementara sang ibu, Reni, mengaku terakhir chatting dengan Raihan melalui Facebook Messenger, Rabu (27/2) sekitar pukul 17.21 Wib. Obrolan itu berisi tentang adanya konflik di sekolahnya.

“Iya mama nggak tau tentang anak Medan kan. Lagi panas-panasnya nih di semua SUPM. Udah sampek Jakarta. Iya kemarin lah yang tinggal 2 angkatan sama anak kelas 2. Anak Medan kelas 1 nya di pukulin. Iya Aan pun kena tapi Aan diam-diam aja,” tulis Aan di Facebook Messenger.

Reni sempat membalas pesan Raihan beberapa menit kemudian. Namun setelah itu tidak ada kabar lagi.

Pasca-obrolan, Reni merasa resah. Badannya meriang terus. “Bahkan pas Jumat (1/3) pagi, kayak ada yang manggil ‘mama’ teriak-teriak, kayak suara Raihan,” ungkap Reni.

Akhirnya, teman Raihan yang dihubungi mengabarkan kalau remaja itu hilang. “Saya heran, Raihan hilang, tapi sekolah tidak ada mengabari kami,” sebut Reni.

Belakangan, Reni juga mendengar ada upaya untuk menutupi kejadian ini. Bahkan dia mendapat informasi ada rekaman CCTV kejadian.
“Tapi pihak guru pas saya tanyain soal itu malah bilang tidak tahu,” katanya.

Reni juga mempertanyakan keberadaan HP Raihan. Menurutnya, sejak Raihan hilang, HP-nya tetap aktif. Pesan di Facebook Messenger hanya dibaca.

Ternyata Raihan ditemukan telah meninggal. Setelah ditemukan, jenazah dibawa ke Medan dan tiba di rumah duka, Minggu (3/3) sekitar pukul 09.30 Wib. Hari itu juga sekitar pukul 11.00 Wib, keluarga memakamkannya di TPU Pasar II Mabar.

Sofyan dan Reni meminta pihak berwajib dapat segera mengungkap kasus itu hingga tuntas. Jika Raihan benar dianiaya atau dibunuh, pelakunya harus ditangkap dan dihukum berat.

“Harapan saya, kasus ini cepat terungkap siapa pembunuhnya. Agar anak kita tenang di sisi-Nya. Pelaku harus diberi hukuman setimpal dengan apa yang dibuat untuk anak saya,” sebut Sofyan.

Reni meminta agar tidak ada lagi korban tewas sia-sia dalam dunia pendidikan.

“Sudah, cukuplah ini yang terakhir. Kami keluarga kehilangan betul,” ucap Reni. (dfnorris)

Berikan Komentar